
METRO BANDUNG, bandungpos.id – Dalam rangka memperingati Milad ke-53, Fakultas Psikologi Universitas Islam Bandung (Unisba) mengadakan International Webinar on Children’s Subjective Well-Being pada Selasa (5/5) melalui Zoom Meeting. Webinar internasional tersebut menjadi sarana diskusi akademik untuk memperdalam pemahaman mengenai kesejahteraan subjektif anak dari sudut pandang global maupun lokal.
Kegiatan ini melibatkan berbagai kalangan, mulai dari akademisi, peneliti, praktisi, hingga mahasiswa yang memiliki perhatian terhadap isu kesejahteraan anak. Forum tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Fakultas Psikologi Unisba dalam memperkuat kontribusi akademik di bidang psikologi anak.
Dekan Fakultas Psikologi Unisba, Dr. Dewi Rosiana, M.Psi., Psikolog, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya webinar bertaraf internasional tersebut. Ia menilai isu kesejahteraan subjektif anak sangat relevan dengan misi Fakultas Psikologi Unisba dalam mengembangkan ilmu psikologi yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Menurut Dewi Rosiana, penelitian mengenai anak perlu memberikan ruang bagi suara anak untuk didengar secara langsung. Pendekatan partisipatif itu menjadi landasan utama dalam proyek Children’s Worlds International Survey of Children’s Well-Being (ISCWeB). Ia berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat jaringan kerja sama internasional sekaligus mendorong lahirnya penelitian inovatif di bidang psikologi anak.
Wakil Rektor Bidang Alumni dan Kerja Sama Unisba, Prof. Dr. Ratna Januarita, S.H., LL.M., M.H., turut memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan webinar tersebut. Ia menyebut kegiatan akademik lintas negara seperti ini sebagai bentuk nyata komitmen Unisba dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi.
Ratna berharap hasil penelitian yang dipaparkan dalam webinar mampu memberikan kontribusi terhadap penyusunan kebijakan yang lebih berpihak kepada anak, terutama di Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga dinilai penting untuk memperluas wawasan peserta mengenai kondisi kesejahteraan anak di berbagai negara.
Webinar menghadirkan tiga narasumber internasional yang memaparkan hasil penelitian dan perkembangan survei kesejahteraan subjektif anak di dunia.
Prof. Dr. Ferran Casas dari Universitat de Girona, Spanyol, yang juga Co-coordinator ISCWeB, memaparkan hasil survei Children’s Worlds yang melibatkan lebih dari 128 ribu anak dari 35 negara pada gelombang ketiga penelitian. Ia menjelaskan bahwa rata-rata tingkat kesejahteraan subjektif anak secara global cenderung lebih tinggi dibandingkan orang dewasa di lingkungan yang sama. Namun, kondisi tersebut mengalami penurunan secara konsisten seiring bertambahnya usia, khususnya pada kelompok usia 10 hingga 16 tahun.
Dalam paparannya, Ferran Casas juga mengungkap adanya perbedaan tingkat kepuasan berdasarkan gender. Anak perempuan cenderung memiliki kepuasan lebih rendah terhadap citra diri, sedangkan anak laki-laki menunjukkan tingkat kepuasan yang lebih rendah terhadap kehidupan sekolah. Selain itu, faktor seperti perundungan (bullying), rasa aman, dan keterlibatan anak dalam menyampaikan pendapat menjadi faktor penting yang memengaruhi kesejahteraan subjektif anak. Jawa Barat tercatat sebagai salah satu wilayah dengan jumlah sampel terbesar dalam survei tersebut, yakni mencapai 23.402 anak.
Sementara itu, dosen Fakultas Psikologi Unisba, Dr. Ihsana Sabriani Borualogo, M.Si., Psikolog, yang juga menjadi Co-investigator Children’s Worlds Survey di Indonesia, memaparkan hasil penelitian terkait kondisi kesejahteraan anak di Jawa Barat. Ia menjelaskan bahwa faktor keluarga, lingkungan sosial, serta akses terhadap sumber daya memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan subjektif anak di Indonesia.
Sebagai bagian dari tim peneliti Indonesia, Ihsana berupaya menghubungkan temuan akademik internasional dengan kondisi nyata yang dihadapi anak-anak di tanah air. Ia juga menyampaikan sejumlah rekomendasi praktis bagi pengambil kebijakan dan praktisi psikologi anak.
Narasumber lainnya, Prof. Dr. Shazly Savahl dari Utrecht University dan University of Cape Town, menjelaskan sejarah dan metodologi proyek Children’s Worlds. Ia menerangkan bahwa proyek tersebut pertama kali diinisiasi pada 2009 oleh International Society for Child Indicators (ISCI) dengan dukungan UNICEF dan Jacobs Foundation. Hingga kini, survei tersebut telah memasuki empat gelombang pengumpulan data dengan jumlah negara dan responden yang terus berkembang.
Shazly Savahl menjelaskan bahwa survei dilakukan menggunakan pendekatan metodologis yang ketat, mulai dari adaptasi lintas budaya, pengujian kognitif bersama anak-anak, hingga penggunaan sejumlah instrumen pengukuran kesejahteraan subjektif anak. Menurutnya, keunggulan utama survei tersebut adalah menempatkan anak sebagai subjek aktif dalam penelitian, bukan hanya sebagai responden pasif.
Jalannya diskusi dipandu Kepala Unit Layanan Psikologi Terpadu (ULPT) Fakultas Psikologi Unisba, Andhita Nurul Khasanah, M.Psi., Psikolog. Sesi tanya jawab berlangsung aktif dan membahas berbagai isu penting, mulai dari implementasi hasil penelitian dalam praktik psikologi anak di Indonesia hingga peluang pengembangan kolaborasi riset internasional berbasis data.
Webinar ini diikuti peserta dari berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa psikologi, akademisi, praktisi, dan pemerhati isu anak dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta juga memperoleh e-sertifikat sebagai bentuk partisipasi. Kegiatan tersebut menjadi bukti komitmen Fakultas Psikologi Unisba dalam membangun ekosistem keilmuan psikologi yang terhubung dengan perkembangan riset internasional.(ask)***





