Oleh Ridhazia
PRESIDEN Prabowo gagal memindahkan 1000 penduduk Palestina “mukim” di Indonesia. Inisiatif baik itu digagalkan Turki dan Saudi Arabia.
Saudi Arabia menolak rencana itu karena ketidakjelasan terminologi “migrasi sukarela” yang dianggap tidak tepat untuk kondisi sekarang.
Demikian juga pihak Turki. Gagasan itu tak lebih sebagai relokasi paksa warga Palestina dari Jalur Gaza. Apa pun dalihnya harus ditolak.
Kedua negara itu ingin fokus mendesak gencatan senjata permanen agar tidak terjadi konflik berkepanjangan yang menambah jumlah korban.
Dan, migrasi sukarela tidak dapat diterima karena Palestina kehilangan kebutuhan hidup paling mendasar yakni negara yang merdeka dari campur tangan negara lain.
Inisiatif Prabowo
Diberitakan sebelum bertolak ke Timur Tengah, Presiden Prabowo Subianto pernah mengatakan Indonesia bersedia menampung 1.000 penduduk Jalur Gaza. Asalkan gagasan itu terlebih dahulu mendapat dukungan dari lima negara di Timur Tengah yaitu Uni Emirat Arab (UEA), Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania.
Relokasi itu pun tidak permanen. Semata-mata alasan kemanusiaan. Jika keadaan sudah kembali pulih, para pemukim bisa dikembalikan ke negara asalnya.
Ide Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menginisiasi migrasi penduduk Jalur Gaza ke negara ketiga, termasuk Indonesia.
Selanjutnya, mengubahnya daerah konflik Israel-Palestina menjadi destinasi wisata pantai (rivera) termegah di Timur Tengah. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





