Ngopi Sewarung Edisi Baduy Perlawanan Sang Jurnalis
Ngopi Sewarung Edisi Baduy Perlawanan Sang Jurnalis
Ngopi Sewarung Edisi Baduy Sebuah Novel (18):
Perlawanan Sang Jurnalis

Renaldi duduk dan bersiap-siap menikmati menu sarapan pagi yang tersaji di atas meja makan. Ia menyeruput secangkir kopi panas hangat, namun raut wajahnya langsung berubah serius begitu melihat Suten yang duduk di hadapannya. Renaldi menyapa Suten sambil tersenyum sinis.
“Hmmmm….ini jagoan ayah, wartawan profesional baru pulang dari Baduy. Dapat apa kau dari Baduy ? Pacar!?” celetuk Renaldi bernada mengejek.
“Ah ayah bisa aja.” Suten menjawab santai.
“Begini Suten, ayah mau kasih tahu kalau ayah baru mendapat proyek besar di wilayah Banten. Ayah ingin kau mengambil posisi di salah satu perusahaan yang menangani proyek tersebut,” pinta Renaldi sambil menyantap roti lapis yang diolesi mentega.
“Proyek apa itu yah?!” Tanya Suten menyelidik.
“Ah kau tak usah tahu terlebih dahulu nama proyek itu. Yang jelas ini proyek besar. Ayah pengen kamu yang memegang proyek itu,” jawab Renaldi penuh semangat.
“Ayah ini apa-apaan. Saya kan wartawan. Bagaimana mungkin bisa. Jiwa Suten bukan di sana yah!” Suten sambil menjawab menenggak jus jeruk dalam gelas ukuran sedang
“Kau berhenti saja jadi wartawan. Masa depan apa yang bisa kau harapkan dengan profesi itu?!” Renaldi kembali menegaskan dengan nada suara tinggi yang terdengar di telinga Suten bak mencetak keras yang mengena pipinya.
“Tidak bisa begitu yah!” Tegas Suten sambil menahan emosi. Segelas air jeruk yang ada di tangan langsung habis diminum.
“Saya masih harus menyelesaikan observasi tentang Baduy,” kata Suten datar.
Renaldi mulai tampak kesal.
“Ngapain pula kau ngurusin orang Baduy nanti kau ketularan miskin, terbelakang!” kata Renaldi sambil menghabiskan sisa cairan kopi hitam di dalam cangkir.
Suten menginginkannya. Ia berhenti mengunyah roti lapis isi mentega yang sudah terlanjur masuk ke mulut. Kalimat yang keluar dari mulut ayahnya benar-benar menyinggung perasaannya hingga merusak selera sarapan.
“Ayah jangan ngomong sembarang! Masyarakat Baduy bukan orang terbelakang. Mereka lebih beradab dari orang kota!!” Gertak Suten bernada tinggi sambil berdiri tegak. Kali ini Suten tak bisa menahan, emosinya meledak. Renaldi juga menghentikan sarapannya. Sorot matanya menatap tajam ke arah Suten.
“Sudah, sudah, pokoknya aku tak setuju kau menjadi wartawan. Kalau kau tak mau menurutiku, silahkan atur hidupmu sendiri..!” Gertak Renaldi tak mau kalah dan langsung pergi meninggalkan meja makan.
Dapatkan sensasi
Tuan Sepuluh





