Oeh: Ridhazia
MUSLIM di Pulau Dewata Bali bukan lagi “minoritas atas mayoritas” umat Hindu. Melalui konsep “Nyawa Selam” relasi entitas umat beragama itu mencair menjadi orang Bali seutuhnya.
Semua berubah total. Tidak ada lagi label simbol formalitas karena perbedaan keyakinan. Ekspresi keagamaan yang dulu secara sosiologis pernah dipisahkan yang disebut “Nyawa Selam” kini sepenuhnya terhapus.
Selatan label-label formalitas ini sudah memasuki fase baru di mana ritual, nilai, dan spiritualitas tidak lagi dikotakkan oleh simbol luar, melainkan menyatu dalam ruang kultural yang universal yang disebut Bali.
Seorang sopir tadi online asal Gresik Jawa Timur yang mengaku jamaah Nadliyin yang saya temui di Denpasar Bali membenarkan. Anak-anaknua yang lahir dan besar di Jembrana merasa sudah menyatu dengan Bali apapun latar belakangnya.
Setara
Nilai spiritual melebur langsung ke dalam tradisi sehari-hari tanpa perlu memedulikan asal-usul label agama Islam di Bali sudah setara dan organik.
Dalam bahasa penelitian persaudaraan sejati atas latar perbedaan keyakinan yang dalam bahasa lokal disebut “menyame braya” bisa dicirikan dengan identitas penyebutan gelar Haji atau Hajjah dalam budaya Bali.
Ketika umat Islam di Pulau Dewata naik haji, gelar keagamaan berpadu unik dengan nama Bali semisal Haji Dewa Muhammad atau Hajjah Ni Made Fatimah.
Hasil Riset
Salah satu penelitian akademis monumental yang mengupas hal ini secara mendalam bisa disimak dari buku etnografi karya Erni Budiwanti (1995) yang berjudul “The Crescent Behind the Thousand Holy Temples: An Ethnographic Study of the Minority Muslim of Pegayaman, North Bali”.
Penelitian itu membuktikan apapun agamanya merawat identitas leluhur bagi Muslim Bali, khususnya di desa-desa adat kuno seperti Pegayaman di Buleleng, bukan lagi kendala.
Ketaatan terhadap syariat Islam dapat berjalan selaras dengan pelestarian budaya lokal Bali. Sekaligus tidak ada lagi identitas pendatang tapi berubah menjadi orang Bali asli yang memeluk agama Islam.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.



