
Oleh: Ridhazia
GUS Kikin menggantikan Gus Yahya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031. Sebelumnya juga tercatat Gus Dur sebagai Ketua PBNU antara 1984–1999.
Dari total 12 tokoh sepanjang sejarah sejak tahun 1926- 2026 ada 9 Ketua Umum PBNU bukan Gus. Tapi berasal dari pesantren dengan pengaruh yang besar.
Kesembilan Ketua PBNU itu Hasan Basri Sagipodin ( 1926–1929), Ahmad Noor (1929–1937), Mahfudh Siddiq (1937–1945), Nahrawi Tahir (1946–1950), Muhammad Dahlan (1954–1955), Idham Chalid (1956–1984), (1999–2010) dan Said Aqil Siroj (2010–2020)
Panggil Gus!
Panggilan “Gus” secara historis bukan khas pesantrenan yang egaliter. Tetapi entah sejak kapan dan dimulai dari pesantren mana menyapa anak kiai lelaki harus berkelas dengan keistimewaan khusus.
Panggilan Gus ternyata diadaptasi dari sapaan kehormatan bangsawan keraton Jawa, khususnya pada masa Kesultanan Mataram untuk keturunan aristokrat/bangsawan politik saat pra-kemerdekaan.
Asal Usul
Asal usulnya Gus dari hasil pemendekan (sinkope) khas bahasa Jawa dari kata Bagus atau Raden Bagus untuk mempermudah pengucapan sehari-hari.
Dalam buku Baoesastra Djawa karya Poerwadarminta, kata ini bermakna anak laki-laki yang memiliki kedudukan tinggi sekaligus menunjukkan seseorang keturunan ningrat.
Ya, setidaknya berasal dari kelas sosial setingkat priayi yang diwariskan berdasarkan garis keturunan atau penghargaan khusus dalam hubungan dinastik dan spiritual.
Konon, pada masa Kesultanan Mataram—khususnya terlihat jelas pada era Sri Susuhunan Pakubuwono IV (1788-1820 M) relasi antara pihak keraton dan pemuka agama (kiai) sangatlah erat.
Banyak kiai yang merupakan keturunan bangsawan atau memiliki jalur pernikahan dengan keluarga istana.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.


