
Oleh: Ridhazia
LEGIAN, Bali, sering digambarkan sebagai kawasan wisata ikonik yang memadukan kehangatan tropis Pulau Dewata.
Denyut kehidupan di kedua pusat wisata dunia ini nyaris sepenuhnya dikuasai turis mancanegara. Semakin malam alih-alih sepi malah semakin ramai.
Turis menyemut di kafe dan hotel yang temaram. Semua kendaraan harus merayap pelan di ruas jalan antara Legian-Kuta yang sempit. Jalan kaki menjadi solusi pilihan.
Ground Zero
Malam itu, Minggu (30/8) itu saya pun memilih berjalan kaki dari hotel hanya untuk melihat Monumen Ground Zero yang dibangun tahun 2004.
Monumen itu terbuat dari batu ukir yang artistik. Dibangun khusus setelah kejadian Bom Bali 2001.
Didesain menyerupai gunungan besar yang biasa ditemukan dalam cerita wayang. Lengkap dengan prasasti marmer yang menuliskan ratusan nama wisatawan asing yang tewas dan luka.
Bom Bali
Monumen Ground Zero menjadi spesial mengingatkan kembali kejadian Bom Bali I terletak di Jalan Legian, Kuta, Bali pada 12 Oktober 2001.
Tepatnya di bekas lokasi kafe Sari Club dan Paddy’s Pub. Saat setelah kejadian, 20 tahun lalu saya berada di lokasi yang telah hancur dan rata dengan tanah itu.
Bom Bali diidentifikasi sebagai aksi terorismei oleh Jemaah Islamiyah (JI). Eksekutornya yakni Amrozi, Imam Samudra, dan Mukhlas telah dieksekusi mati di Nusakambangan pada 9 November 2008.
Sedangkan Ali Imron dihukum seumur hidup. Sementara Umar Patek dihukum 20 tahun penjara pada tahun 2012 dan telah mendapatkan pembebasan bersyarat pada Desember 2022.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.


