Metro BandungRT / RW

Olah Sampah di Sumbernya, Stop Bebani TPS

49views

 

Panduan Praktis Mengubah Sampah Jadi Berkah di Rumah Sendiri

PERNAHKAH –anda memperhatikan truk sampah yang lewat? Atau mencium bau tidak sedap dari TPS (Tempat Pembuangan Sementara) di sekitar lingkungan kita? Selama ini, kita terbiasa dengan pola “Kumpul – Angkut – Buang”. Semua sampah, dari sisa sayur hingga popok bayi, dicampur menjadi satu dan diangkut ke TPS. Akibatnya, TPS cepat penuh, bau, dan membebani truk pengangkut serta TPA kota. Padahal, hampir 70% sampah rumah tangga kita adalah sampah yang bisa diolah di rumah! Melalui gerakan dan program Kang Pisman, mari kita ubah pola pikir kita. Sampah bukan lagi “beban”, melainkan “sumber daya” yang bisa dihabiskan di wilayah sendiri.

Bagaimana caranya? Simak panduan memilah dan mengolah 3 jenis sampah berikut ini . SAMPAH ORGANIK (Sisa Makanan, Kulit Buah, Sayur, Daun). Target: 100% TIDAK ke TPS! Sampah organik adalah penyumbang bau dan lindi (air sampah) terbesar. Mari olah di rumah dengan cara berikut: Budidaya Maggot (BSF): Ini adalah cara paling cepat! Maggot sangat rakus memakan sisa makanan, nasi basi, dan buah busuk. Dalam sehari, 1 kg maggot bisa menghabiskan 1 kg sampah organik. Bonusnya: Maggot yang besar bisa jadi pakan gratis untuk ikan lele atau ayam di Buruan Sae. Buat Eco Enzyme & MOL: Kumpulkan kulit buah (jeruk, nanas, pepaya) dan sisa sayur. Fermentasikan dengan gula merah dan air di dalam botol/galon bekas. Dalam 3 bulan, Anda akan mendapatkan cairan ajaib untuk pupuk tanaman, pembersih lantai, hingga pengusir hama. Pengomposan (Lubang Kompos / Bata Terawang / Drum): Khusus untuk sampah kebun (daun kering, ranting) dan sisa sayur yang tidak dimakan maggot. Masukkan ke lubang tanah atau wadah khusus, bolak-balik secara rutin, dan dalam 1-2 bulan Anda akan mendapat pupuk kompos yang subur untuk tanaman di pekarangan. Langsung ke Ternak: Sisa nasi, sayur bening, atau ampas tahu yang masih bersih bisa ngsung diberikan kepada ayam, bebek, atau kambing.

SAMPAH ANORGANIK BERNILAI (Plastik, Kertas, Logam, Kaca)

Target: Masuk Bank Sampah / Jadi Cuan! Sampah ini tidak membusuk, tapi memiliki nilai ekonomis. Jangan dibuang ke TPS! Pisahkan dan Bersihkan: Cuci bersih botol plastik, kaleng, atau kemasan makanan. Keringkan dan remukkan untuk menghemat tempat. Setor ke Bank Sampah atau Pemulung: Kumpulkan sampah anorganik yang sudah bersih. Setorkan ke Bank Sampah Unit (BSU) di RW atau kumpulkan untuk dijual ke pemulung. Bonusnya: Sampah berubah menjadi uang tabungan atau tambahan penghasilan ibu-ibu PKK!Upcycling (Daur Ulang Kreatif): Botol bekas bisa dijadikan Ecobrick (isi dengan sampah plastik lunak untuk jadi kursi/taman), pot tanaman, atau kerajinan tangan yang bernilai jual.

SAMPAH RESIDU (Popok, Pembalut, Styrofoam, Sampah Terkontaminasi) Target: MINIMALISIR, baru buang ke TPS! Sampah residu adalah sampah yang benar-benar tidak bisa didaur ulang dan tidak bisa diolah secara mandiri. Kurangi Penggunaannya: Mulailah beralih dari pembalut sekali pakai ke menstrual cup, kurangi penggunaan styrofoam untuk bungkus makanan, dan bawa tas belanja sendiri. Bungkus dengan Rapi: Sampah residu (seperti popok bayi) harus dibungkus rapat dengan plastik bekas atau koran sebelum dibuang, agar tidak mencemari lingkungan dan tidak mengganggu petugas kebersihan. Hanya Ini yang ke TPS: Ingat, HANYA sampah residu inilah yang boleh diangkut oleh petugas Gaslah ke TPS. Jika kita berhasil memilah, volume sampah residu kita akan berkurang hingga 70%!

Apa Manfaatnya Bagi Kita?

Lingkungan Asri & Sehat: Tidak ada lagi bau busuk dan tumpukan lalat di depan rumah atau di TPS. Hemat Biaya: Volume sampah yang dibuang ke TPS berkurang, sehingga potensi penghematan biaya retribusi sampah bisa dialokasikan untuk hal lain. Dapat Cuan: Dari penjualan sampah anorganik ke Bank Sampah dan pemanfaatan pupuk/maggot untuk Buruan Sae.Mendukung Kota Bandung: Kita membantu mengurangi beban TPA Sarimukti dan mendukung instruksi Walikota Bandung tentang pengelolaan sampah mandiri.

 Ayo Mulai dari Dapur Kita!

Bapak/Ibu perubahan besar dimulai dari langkah kecil di rumah kita sendiri. Sediakan 3 wadah berbeda di dapur (Organik, Anorganik, Residu) dan ajak seluruh anggota keluarga untuk membiasakan memilah. Mari kita buktikan bahwa Kota Bandung bisa menjadi kota  yang bersih, sehat, dan ekonomis. Ingat slogan kita: “Sampahku, Tanggung Jawabku! Olah di Sumber, TPS Lega, Lingkungan Asri!” Disusun oleh: Arby Bimantara, Fauziah Kania Dewi, Imas Syaidah, Irma Vitria Devi,Mohammad Iqbal, Melie Pramelia, Reza Adel, Siti Mulyani.

Editor : Rianto Muradi

 

Leave a Response