
Oleh: Widodo
SEMALAM warung kopi mendadak penuh. Ada yang pesan kopi hitam, ada yang pesan es teh, tapi semuanya punya menu yang sama: adu prediksi.
Alhamdulillah, prediksi yang saya tulis kemarin tidak meleset. Saya memperkirakan Spanyol menang 1-0 dalam pertandingan yang ketat. Ternyata benar. Bedanya, gol baru lahir di babak kedua perpanjangan waktu. Kadang prediksi bukan soal jadi paranormal, tapi membaca arah permainan.
Spanyol akhirnya memastikan diri sebagai Juara Piala Dunia 2026 setelah menundukkan Argentina 1-0 lewat gol Ferran Torres pada menit ke-106. Kemenangan ini mengantar La Furia Roja meraih gelar Piala Dunia kedua setelah sukses pertama mereka pada 2010.
Kalau melihat jalannya pertandingan, Emiliano Martínez layak disebut pemain tersibuk. Berkali-kali ia menyelamatkan gawang Argentina dari ancaman Lamine Yamal, Dani Olmo, Nico Williams hingga Ferran Torres. Namun setangguh apa pun seorang kiper, kalau serangan datang terus-menerus, akhirnya jebol juga.
Lionel Messi sendiri gagal mempertahankan gelar yang diraih Argentina pada 2022. Kelasnya tetap terlihat, tetapi regenerasi Spanyol kali ini benar-benar matang. Mereka bermain disiplin, sabar, dan efektif.
Sementara itu, meski Prancis tidak menjadi juara, Kylian Mbappé tetap membawa pulang Sepatu Emas (Golden Boot) setelah mengoleksi 10 gol sepanjang turnamen. Gelar juara boleh milik Spanyol, tetapi urusan paling rajin menjebol gawang tetap menjadi milik Mbappé. Ibarat turnamen kampung, timnya tidak juara, tapi pulangnya tetap bawa piala top skor.
Yang paling lucu tentu suasana warung kopi. Lima menit sebelum pertandingan selesai, masih ada yang santai bilang, “Tenang… ini pasti adu penalti.” Beberapa menit kemudian Ferran Torres mencetak gol.
Mendadak yang tadi paling berisik berubah jadi pengamat sepak bola.
“Menurut saya pelatihnya telat ganti pemain…”
Lho… dari tadi nontonnya sambil main domino, sekarang mendadak jadi analis taktik FIFA.
Begitulah sepak bola. Sembilan puluh persen penonton merasa lebih pintar dari pelatih, seratus persen yakin wasit selalu salah, dan seribu persen percaya kopi warung rasanya lebih nikmat kalau tim jagoannya menang.
Ada satu momen yang mungkin luput dari perhatian banyak penonton, tetapi justru menjadi titik balik pertandingan. Kartu merah yang diterima Enzo Fernández di masa injury time babak kedua membuat Argentina harus memainkan babak perpanjangan waktu hanya dengan 10 pemain.
Dalam sepak bola level final Piala Dunia, kehilangan satu pemain bukan sekadar berkurang satu nama di lapangan. Ruang antarlini menjadi lebih renggang, stamina pemain lain terkuras karena harus menutup area yang ditinggalkan, sementara Spanyol justru semakin leluasa menguasai bola.
La Furia Roja memang tampil dominan sejak awal. Namun keunggulan jumlah pemain membuat tekanan mereka semakin sulit dibendung. Argentina dipaksa lebih banyak bertahan, sehingga tenaga untuk melakukan serangan balik pun semakin berkurang.
Gol Ferran Torres pada menit ke-106 seolah menjadi harga mahal yang harus dibayar setelah Argentina bermain dengan 10 orang. Apakah tanpa kartu merah Enzo hasilnya pasti berbeda? Tidak ada yang bisa memastikan. Namun sangat masuk akal jika banyak pengamat berpendapat laga itu mungkin akan tetap bertahan hingga adu penalti.
Kalau sudah adu penalti, ceritanya bisa berubah. Argentina masih memiliki Emiliano “Dibu” Martínez, salah satu spesialis adu penalti terbaik di dunia. Boleh jadi peluang Albiceleste mempertahankan gelar akan jauh lebih terbuka.
Di warung kopi, kesimpulannya sederhana. “Final itu bukan cuma soal siapa paling banyak menyerang, tapi juga siapa yang paling sedikit membuat kesalahan.”
Dan semalam, satu kartu merah membuat keseimbangan pertandingan berubah. Spanyol memanfaatkannya dengan sangat baik, sementara Argentina harus membayar mahal kehilangan satu pemain di saat-saat paling menentukan. “Ternyata benar kata bapak-bapak di warung kopi: satu kartu merah kadang lebih mahal daripada satu karung kopi.” ☕⚽
Selamat untuk Spanyol, juara dunia 2026. Selamat juga untuk Kylian Mbappé yang meraih Golden Boot dengan 10 gol. Dan buat yang prediksinya meleset, tidak usah berkecil hati. Di warung kopi, yang salah prediksi tetap boleh ngopi. Yang penting jangan pura-pura dari awal sudah dukung tim pemenang. Itu namanya… VAR tidak bisa mendeteksi, tapi teman tongkrongan pasti ingat! *
* Widodo, kolumnis, pemerhati keruwetan sosial, praktisi penyiaran, Ketua Persatuan Penyiar Radio Indonesia (Persiari), bermukim di Pontianak, Kalimantan Barat.


