DisabilitasMetro Bandung

Tour4dilans: Ketika Sejarah, Seni, Dan Inklusi Bertemu

TOUR4DILANS: KETIKA SEJARAH, SENI, DAN INKLUSI BERTEMU

26views

KOTA BANDUNG, Bandungpos–Lebih dari 100 sahabat penyandang disabilitas dan lanjut usia kembali mengikuti kegiatan rutin #Tour4DILANS pada Minggu (19/7). Kali ini kami mengunjungi Museum Sejarah Kota Bandung, kemudian melanjutkan kebersamaan melalui pertunjukan seni dan #Karaoke4DILANS di Taman Sejarah Kota Bandung.

Bagi DILANS Indonesia, #Tour4DILANS bukan sekadar jalan-jalan atau ajang berkumpul. Setiap kunjungan adalah ruang belajar bersama untuk mengenal sejarah, memperkuat jejaring sosial, membangun rasa percaya diri, sekaligus memastikan bahwa ruang budaya benar-benar dapat diakses dan dinikmati oleh semua warga.

Kunjungan ini melanjutkan #Tour4DILANSf sebelumnya ke Museum Konferens Asa Afrika (MKAA) pada Mei lalu. Dua kunjungan tersebut menjadi salah satu rangkaian kunjungan kelompok penyandang disabilitas dan lanjut usia terbesar ke museum-museum bersejarah di Kota Bandung.

Demikian diungkapkan Prwesiden Dilans Indonesia Farhan Helmy, kepada awak media hari ini,

Lebih lanjur President Dilans Indonesia mengungkapkan, melalui kegiatan ini, kami juga berbagi masukan kepada pengelola museum mengenai pentingnya aksesibilitas yang lebih menyeluruh. Tidak hanya akses fisik, tetapi juga penyediaan informasi yang ramah bagi penyandang disabilitas netra, Tuli, disabilitas intelektual, dan mental. Ke depan, kami juga berharap hadirnya “calming room” (ruang tenang) serta peningkatan kapasitas para pemandu museum agar semakin siap memberikan pelayanan yang inklusif bagi seluruh pengunjung.

Setelah belajar bersama, kami menutup hari dengan pertunjukan seni dan #Karaoke4DILANS, upaya menciptakan ruang belajar, berekspresi, berteman, dan bergembira bersama.

Terima kasih kepada Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kota Bandung, pengelola Museum Sejarah Kota Bandung, para pemandu museum, seluruh relawan, mitra, dan semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan ini.

” Karena museum bukan hanya tempat menyimpan masa lalu, tetapi juga ruang belajar bersama untuk membangun masa depan yang lebih inklusif. Mari menjadikan setiap ruang publik sebagai ruang yang dapat diakses, dipelajari, dan dinikmati oleh semua, ” katanya. ( rm/ FH/BNN)

Leave a Response