Kolom Sosial Politik

Empat T dan Empat Tangan

3views

Oleh: Widodo

TIRAIi seleksi Anggota KPI Pusat periode 2026–2029 akhirnya resmi ditutup. Sembilan nama telah keluar dari “ruang audisi demokrasi”. Lima adalah wajah lama yang kembali dipercaya, empat lainnya wajah baru yang siap mencicipi panasnya kursi regulator penyiaran.

Begitu pengumuman keluar, media sosial langsung berubah menjadi ruang sidang rakyat. Ada yang bersyukur sambil mengucap “Alhamdulillah”. Ada yang kecewa sambil bergumam, “kok bukan dia?” Ada pula yang mendadak menjadi analis politik, ahli psikologi, pakar bahasa tubuh, bahkan cenayang dadakan yang merasa sejak awal sudah mengetahui hasil akhirnya.

Begitulah demokrasi. Semua orang berhak punya pendapat, tetapi tidak semua pendapat akan menjadi keputusan. Selama proses seleksi, publik mengenal rumus 4T sebagai bekal menjadi komisioner.

Track Record, rekam jejak harus bersih. Test, harus lolos berbagai tahapan ujian. Trust, integritas harus terjaga. Time, siap mengabdikan waktu sepenuhnya.

Empat T itu memang terdengar akademis. Tetapi di warung kopi, grup WhatsApp, hingga kolom komentar, muncul versi lain yang jauh lebih menghibur.

Konon, selain empat T tersebut, ada pula Empat “Tangan” yang selalu ikut disebut-sebut. Pertama, garis Tangan. Kalau memang sudah rezeki, kadang jalan terasa lapang. Sebaliknya, CV setebal novel pun bisa kalah oleh garis nasib.

Kedua,
Jabat Tangan. Ini bukan soal lobi, tetapi simbol bahwa komunikasi dan silaturahmi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan. Jangan salah, pintu yang terkunci kadang terbuka bukan karena didobrak, tetapi karena diketuk dengan sopan.

Ketiga, campur tangan. Nah… yang satu ini paling sering muncul di grup WhatsApp. Lucunya, hampir semua orang yakin ada campur tangan, tetapi ketika ditanya buktinya, jawabannya hampir seragam: “Katanya…”

Dan terakhir, tanda tangan. Pada akhirnya, semua diskusi, semua analisis, semua prediksi akan berhenti di satu titik: keputusan resmi yang telah ditandatangani. Demokrasi memang tidak selalu membuat semua orang puas, tetapi harus membuat semua orang siap menerima hasilnya.

Kini panggung seleksi telah kosong. Lampu audisi dipadamkan. Kamera berhenti merekam. Tepuk tangan pun perlahan mereda. Yang tersisa adalah pekerjaan besar.

Lima petahana membawa pengalaman. Empat pendatang baru membawa semangat. Namun publik tidak akan menghitung lagi siapa petahana dan siapa pendatang baru. Yang akan dihitung adalah seberapa cepat KPI menjawab tantangan zaman.

Sebab lawan KPI hari ini bukan lagi sekadar pelanggaran tayangan televisi. Yang datang sekarang jauh lebih rumit: banjir konten digital, kecerdasan buatan, hoaks, judi online, eksploitasi anak, siaran yang makin kabur batasnya, hingga algoritma yang bekerja lebih cepat daripada regulasi.

Maka jangan sampai energi habis hanya untuk mengenang proses seleksi. Sebab masyarakat tidak menunggu cerita siapa yang menang. Masyarakat menunggu hasil kerja sembilan orang yang kini dipercaya menjaga ruang siaran Indonesia.

Akhirnya, mari kita akhiri perdebatan dengan sedikit senyum. Karena dalam setiap seleksi jabatan publik, selalu ada yang berkata, “Saya kalah.”

Padahal mungkin yang benar adalah, “Belum giliran.” Dan siapa tahu… pada seleksi berikutnya, yang menentukan bukan lagi garis tangan, melainkan benar-benar jejak tangan melalui karya nyata.

Selamat bekerja kepada sembilan Komisioner KPI Pusat periode 2026–2029. Kini saatnya membuktikan bahwa keputusan terbaik bukan hanya yang tertulis di atas kertas, tetapi yang benar-benar terasa manfaatnya di tengah masyarakat.*

* Widodo, kolumnis, praktisi penyiaran, pemerhati keruwetan sosial,  Ketua Persatuan Penyiar  Radio Indonesia (Persiari). bermukim di Pontianak, Kalimantan Barat. 

Leave a Response