Opini

Mengenang KH Muhammad Jazir ASP : Sosok Guru yang Menghidupkan Masjid di Dalam Diri

Mengenang KH Muhammad Jazir ASP : Sosok Guru yang Menghidupkan Masjid di Dalam Diri

295views

Oleh : M Kh Rachman Ridhatullah ( Marbot KHADAMUL MASJID INDONESIA (KMI) Bandung )

 Sebagai guru, KH Jazir tidak mengajar dengan ceramah panjang. Beliau mengajar lewat cara berpikir. Setiap kali kami membahas program kemasjidan, beliau selalu memulai dari pertanyaan sederhana : siapa yang akan disentuh? masalah kemasjidan apa yang akan dihidupkan kembali sebagai solusinya? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi landasan cara pandangnya tentang aktivasi masjid—bahwa program bukan sekedar kegiatan, melainkan jembatan antara iman dan kenyataan sosial

 

S AYA– mengenalkan KH Muhammad Jazir ASP bukan dari podium besar atau panggung yang gemerlap, melainkan dari ruang-ruang diskusi informal kecil yang penuh makna. Dari wasilah sebuah perusahaan penerbit Al-Qur’an di Bandung, dari forum sederhana para aktivis masjid di Khadamul Masjid Indonesia (KMI) Bandung, dan dari percakapan-percakapan sunyi yang sering kali lebih menguatkan daripada seribu nasihat.

Di sanalah pertemanan kami bertumbuh—kadang sebagai guru dan murid, kadang sebagai sahabat seperjalanan, dan pada saat-saat tertentu, sebagai orang tua dan anak. Hubungan yang tidak dibingkai oleh struktur formal, tetapi oleh kepercayaan, ketulusan dan kedekatan emosional.

Saat itu, saya masih aktif bekerja di perusahaan penerbit Al-Qur’an di Bandung. Di antara lembar-lembar mushaf yang disusun dengan kehati-hatian, KH Jazir hadir bukan hanya sebagai rekan diskusi, tetapi sebagai pengingat makna dari sebuah tugas dan tanggug jawab pekerjaan. Beliau sering berkata dengan ringan, seolah-olah bercanda, namun menancap dalam: bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan untuk dicetak dan berhenti di rak rumah-rumah orang Islam, dan masjid tidak dibangun untuk berhenti di fisik bangunannya saja. Keduanya harus bergerak, menyentuh kehidupan nyata.

Sebagai guru, KH Jazir tidak mengajar dengan ceramah panjang. Beliau mengajar lewat cara berpikir. Setiap kali kami membahas program kemasjidan, beliau selalu memulai dari pertanyaan sederhana : siapa yang akan disentuh? masalah kemasjidan apa yang akan dihidupkan kembali sebagai solusinya? Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi landasan cara pandangnya tentang aktivasi masjid—bahwa program bukan sekedar kegiatan, melainkan jembatan antara iman dan kenyataan sosial.

Hubungan itu semakin meningkat ketika kami sama-sama terlibat dalam pengembangan program pesantren bagi para lansia. Di Jogjkarta, KH Jazir tampil sebagai pelopor pengembangan konsep pesantren lansia yang mandiri berbasis wakaf. Namun, beliau masih bisa menempatkan diri sebagai sahabat buat saya yang sedang merintis pengembangan alternatif konsep pesantren kreatif lansia di Bandung. Beliau masih berkenan mendengarkan ide-ide mentah tanpa menghakimi, memberi ruang bagi kegagalan, dan keberanian keberanian untuk mencoba. Dari beliaulah saya belajar bahwa aktivasi masjid bagi segmen lansia bukan soal meniru program yang sedang tren, tetapi membaca denyut jamaah.

Beliau mengajarkan bahwa masjid harus mengenal lingkungannya seperti seorang sahabat mengenal sahabatnya : tahu kapan harus berbicara, kapan harus diam, dan kapan harus hadir tanpa diminta. Program masjid, menurutnya, tidak boleh lahir dari ambisi pengurus, tetapi dari kebutuhan jamaah yang sering tak terucap.

Sebagai sahabat, KH Jazir kerap menjadi tempat pulang bagi kegelisahan. Beliau tidak menawarkan solusi instan, tetapi menghadirkan ketenangan. Dalam diskusi-diskusi panjang tentang ekonomi umat, pendidikan, hingga kemandirian masjid, beliau selalu menegaskan satu hal : masjid harus menjadi ruang aman. Aman bagi yang miskin untuk datang tanpa rasa rendah diri, aman bagi yang lelah untuk beristirahat, dan aman bagi ide-ide baru untuk tumbuh.

Namun bagi saya pribadi, peran beliau sebagai figur orang tua meninggalkan jejak paling dalam. Beliau seringkali menasihati dengan lembut, menegur tanpa melukai. Ketika saya ragu pada langkahnya sendiri, beliau tidak memaksakan arah pilihannya sendiri, namun memberikan keyakinan bahwa niat baik yang dikelola dengan jujur ​​akan menemukan jalannya. Sikap itu kelak saya pahami sebagai inti kepemimpinan masjid : Besarkanlah manusia, bukan kecilkan mereka.

Semua pengalaman itu menemukan bentuk paling utuh ketika saya menyaksikan bagaimana nilai-nilai hidup tersebut di Masjid Jogokariyan. Prinsip-prinsip yang sering disebut orang sebagai “inovasi” dan “kreativitas”—seperti keberanian menggerakkan dana umat untuk kebutuhan nyata, atau memosisikan masjid sebagai pusat aktivitas sosial—sebenarnya adalah buah dari perjalanan panjang beliau. Perjalanan yang dimulai dari mushaf yang dicetak dengan amanah, hingga masjid yang dihidupkan dengan keberpihakan.

Sebagai Ketua Dewan Syuro, KH Jazir memilih berdiri di belakang, menjaga arah. Beliau memastikan setiap aktivasi masjid tidak kehilangan ruh : keikhlasan, kebermanfaatan, dan keberanian memihak umat kecil. Kepemimpinannya tidak berisik, namun konsisten—seperti kompas yang jarang dilihat, namun selalu menentukan arah yang tepat, solutif, dan berdampak.

Kini, ketika KH Muhammad Jazir ASP telah berpulang, saya menyadari bahwa warisan terbesarnya bukan sekadar model pengelolaan masjid. Warisannya adalah cara memandang masjid sebagai manusia: tumbuh, belajar, jatuh, dan bangkit bersama jamaahnya.

Setiap kali saya terlibat dalam merancang program masjid, bayangan beliau hadir dalam pertanyaan yang sama: apakah ini menghidupkan? Apakah ini mendekati masjid pada umatnya? Program Apkah ini nantinya akan memberikan manfaat konkret bagi jamaahnya. Selama pertanyaan itu terus dijaga, saya percaya, semangat KH Jazir akan tetap menyala.

Beliau telah kembali kepada-Nya. Namun sebagai guru, sahabat, dan orang tua dalam perjalanan hidup saya, KH Muhammad Jazir ASP akan selalu tinggal dan tetap hadir—dalam setiap upaya menjadikan masjid lebih bernapas, lebih manusiawi, dan lebih bermakna bagi kehidupan. **

 

 

Leave a Response