TOKOH

Mengabadikan Soekarno

16views

Oleh Bachtiar Adnan Kusuma. S.Sos. MM:  Soekarno berulang-ulang berkata, Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah(Jasmerah) seharusnya dimaknai secara substantif bukan tekstual. ” Warisi apinya, bukan Abunya” kata Bung Karno. Hemat saya, api kehidupan dan spirit Bung Karno seharusnya kembali dikaji dan dipelajari setiap momentun 17 Agustus, terutama kaum muda agar bisa menjadi road map hidupnya.

Selain prototipe pergulatan hidupnya sangat rapi, terstruktur, modal kapitalnya adalah pertama Mimpi, kedua Determinasi, ketiga Literasi dan keempat Konstribusi juga lingkungan keluarga Soekarno membentuk pribadinya sejak kecil. Potret dan cermin seharusnya dikaji dan diulang-ulang agar kaum muda semakin terinspirasi dari semangat perjuangan pendiri bangsa kita. Bukan pesta panggung, lomba panjat tebing, makan kerupuk, joget dan pesta makan besar yang bisa menjauhkan kita dari makna sesungguhnya Kemerdekaan.

Dan, sebagai Aktivis Literasi Indonesia, saya selalu berusaha menyempitkan mindset dan arah gerakan dengan fokus ke Literasi.

Pertama, Soekarno Besar dan menjadi Pemimpin Besar karena punya Mimpi Besar. Mimpi besar Soekarno adalah memperjuangkan bangsanya agar bebas dari Kolonialisme dan Imperialisme penjajah Belanda.

Sejak kecil Soekarno telah dididik Ayahnya dengan disiplin, membaca yang kuat dan memberi julukan semangat” Putra Sang Fajar” dan Douwes Dekker menjulukinya” Putra penyelamat Indonesia”. Mimpi besar Soekarno adalah memerdekakan bangsanya dari penindasan Belanda. Ia berjuang melalui forum, menulis, berdebat berdiplomasi dan berjuang dari Penjara demi Bangsa dan Negaranya.

Kedua, Literasi. Soekarno adalah Manusia kutu Buku, dan apa arti Soekarno tanpa Buku. Bukulah yang menjadikannya menjadi manusia besar. Buku menjadi teman yang selalu berada di sekelilingnya, memberi inspirasi. Dan, di dalam buku inilah Soekarno hidup dan sedikit bergembira.

Ketiga, Determinasi atau tekad yang kuat. Tekadnya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia bagaikan batu karang yang tidak pernah goyah di tengah ombak deras. Intimidasi, tekanan, pengadilan, penjara dan pembuangan menjadi langganannya. Namun ia tidak pernah goyah, apalagi menyerah.

Keempat, konstribusi dalam bidang apapun sesuai talenta, bakat dan kemampuan serta kapasitas masing-masing. Saya menegaskan kembali, bahwa untuk memperjuangkan nilai dan semangat kebaikan, seharusnya dimulai dari 4 pilar Ala Soekarno. Namun yang paling penting lagi, setiap perjuangan, dimulai dari Ide, Gagasan dan Bangunan konsep. Pada akhirnya inilah yang menjadi kata kunci Perjuangan, memulai dari Mimpi, Literasi, Determinasi dan Konstribusi.Parangtambung, 18 Agustus 2026
BAK *

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response