TOKOH

24views

Para Menteri yang terhormat,

Yang Terhormat Walikota Bandung,

Yang Mulia, Para Tamu Terhormat,

Teman-teman dari Asia dan Afrika,

Selamat pagi.

Sebelum memulai, saya ingin menyampaikan harapan tulus saya untuk kesembuhan yang cepat bagi Walikota Bandung, yang sayangnya tidak dapat bergabung dengan kita hari ini karena sakit. Kami mendoakan beliau kekuatan, kesehatan yang baik, dan kesembuhan yang cepat, dan kami berharap dapat segera bertemu kembali dengannya.

Suatu acara besar bagi saya untuk berdiri di hadapan Anda hari ini di Gedung Merdeka, tempat lebih dari tujuh puluh tahun yang lalu Semangat Bandung menginspirasi dunia dengan keyakinan yang sederhana namun penuh kekuatan:

Solidaritas itu dapat mengubah sejarah.

Hari ini, kita berkumpul sekali lagi di bawah tema yang indah: “Persatuan dalam Keberagaman, Bangkit dalam Harmoni.”

Ini bukan sekadar kata-kata untuk sebuah festival. Hal ini mengingatkan kita bahwa, di dunia yang menghadapi perubahan iklim, degradasi lingkungan, meningkatnya ketidaksetaraan, dan tekanan yang semakin besar pada kerja sama multilateral, persatuan bukan lagi sesuatu yang hanya kita rayakan.

Ini adalah sesuatu yang harus kita bangun. Saat ini, Asia dan Afrika berada di pusat peluang dan tantangan yang sangat besar. Secara bersama-sama, benua kita adalah rumah bagi hampir delapan puluh persen umat manusia.

Rakyat kita akan membantu membentuk masa depan planet ini. Namun, banyak dari komunitas kita juga termasuk yang paling rentan terhadap perubahan iklim, degradasi lingkungan, bencana, dan kesenjangan sosial yang semakin meluas.

Pertanyaan yang kita bahas sekarang bukanlah lagi apakah tantangan-tantangan ini saling berhubungan.

Pertanyaan sebenarnya adalah Bisakah kita belajar memahami respon kita? Saat Anda melihat gambar-gambar ini… Anda tidak hanya menyaksikan perjalanan saya. Anda sedang menyaksikan kenyataan yang dialami oleh jutaan orang.

Beberapa tahun yang lalu, saya menjadi pengguna kursi roda. Pengalaman itu mengubah cara saya memahami inklusi.Namun, hal itu juga mengubah cara saya memahami perubahan iklim.

Karena saya menyadari sesuatu yang sangat sederhana. Hambatan terbesar akhirnya tidak diciptakan oleh tubuh kita. Hal itu tercipta sebagai hasil sistem yang sejak awal tidak dirancang untuk semua orang.

Mungkin pelajaran yang sama berlaku untuk banyak tantangan yang kita hadapi saat ini. Perubahan iklim. Aksesibilitas. Pembangunan perkotaan. Kemiskinan. Kesehatan masyarakat. Penuaan. Teknologi. Hal-hal tersebut sering dibahas secara terpisah.

Namun mereka membentuk kehidupan yang sama. Komunitas yang sama. Masa depan yang sama.  Itulah mengapa saya percaya Semangat Bandung lebih penting dari sebelumnya. Bukan karena itu mengingatkan kita pada masa lalu.

Namun karena hal itu menantang kita untuk membayangkan masa depan kita. Masa depan di mana keberagaman tidak hanya dihormati.Hal itu menjadi sumber kolaborasi terbesar kita.Karena keberagaman bukanlah kelemahan kita.

Pengecualian adalah. Jika abad kedua puluh menyatukan Asia dan Afrika untuk bersatu menjadi bangsa.. Mungkin abad ke-21 menuntut kita untuk bekerja sama sebagai manusia. Antar masyarakat. Dari kota ke kota.

Antar universitas. Dari komunitas ke komunitas. Pemerintahan bersama warga negara. Sains dengan masyarakat. Inovasi dengan mengedepankan kemanusiaan. Hari ini, saya tidak meminta simpati.

Saya meminta pasangan. Saya tidak hanya meminta kita untuk mengingat Semangat Bandung.

Saya meminta kita untuk memperbaruinya. Melalui kolaborasi. Melalui kepercayaan. Melalui tanggung jawab bersama. Karena masa depan Asia dan Afrika tidak akan ditentukan hanya oleh tantangan yang kita hadapi.

Hal itu akan ditentukan oleh bagaimana kita memilih untuk merespons bersama. Jika Semangat Bandung mengubah abad kedua puluh. Mari kita perbarui untuk yang ke dua puluh satu. Mari kita pilih kolaborasi daripada perpecahan. Harapan mengalahkan ketakutan.

Persatuan mengatasi perpecahan. Mari kita bangkit bersama. Dalam harmoni. Terima kasih.


Pidato ini disampaikan pada Festival Asia-Afrika (AAF) 2026 pada tanggal 11 Juli 2027.

Farhan Helmy  adalah seorang pemikir sistem, praktisi tata kelola iklim, pemimpin komunitas, dan advokat disabilitas. Sebagai Ketua Asia–Africa Inclusive Nexus Network (AAINN), Pendiri ASCODI Lab, dan Presiden DILANS Indonesia, ia menggabungkan sains, kebijakan, teknologi, dan pengalaman hidup untuk memajukan aksi iklim, inklusi sosial, dan sistem inovasi. Karyanya fokus pada membangun jalur kolaboratif yang menghubungkan pemerintah, kota, universitas, bisnis, masyarakat sipil, dan komunitas menuju masa depan yang lebih inklusif, tangguh, dan berkelanjutan di seluruh Asia dan Afrika.

Leave a Response