TOKOH

Mengenal Labih Dekat Tantan Sulthon Bukhawan, Calon Ketua PWI Jabar, Kisah dari Pangalengan ke Ruang Redaksi

59views

BANDUNG, BandungPos.id —  Menjadi bagian dari organisasi profesi wartawan bukan sekadar soal jabatan bagi Tantan Sulthon Bukhawan. Sebagai Sekretaris PWI Jawa Barat, ia ingin organisasi tersebut menjadi ruang bagi wartawan untuk bertumbuh, meningkatkan kompetensi, mendapat perlindungan, sekaligus memperjuangkan kesejahteraan profesi.
Pandangan itu tidak muncul begitu saja. Lebih dari dua dekade berada di dunia jurnalistik membuat Tantan melihat langsung bagaimana profesi wartawan berubah. Dari masa ketika surat kabar menjadi sumber utama informasi, hingga era digital yang membuat berita bergerak dalam hitungan detik.
Tapi, menurut Tantan, perubahan teknologi tidak boleh mengubah prinsip dasar jurnalistik.

“Platform boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi integritas wartawan tidak boleh ikut berubah,” kata Tantan.

Tantan Sulthon Bukhawan dan perjalanan panjang di dunia jurnalistik

Perjalanan Tantan Sulthon Bukhawan dimulai pada 2002. Ia mengawali karier sebagai wartawan Harian Umum Mitra Dialog, salah satu surat kabar di bawah naungan Pikiran Rakyat Grup.

Tiga tahun kemudian, ia bergabung dengan Harian Seputar Indonesia (Sindo). Pengalaman di ruang redaksi membuatnya memahami bahwa kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan seorang wartawan.

“Berita yang baik bukan yang paling cepat, tetapi yang paling dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Dari Sindo, perjalanan profesionalnya berlanjut ke InilahKoran. Di media tersebut, Tantan melewati berbagai perubahan industri pers. Media cetak yang sebelumnya menjadi kekuatan utama perlahan harus beradaptasi dengan perkembangan digital.
Perubahan itu ikut membentuk cara pandangnya terhadap profesi.

Bagi Tantan, wartawan tidak cukup hanya mampu menulis. Wartawan harus mau mendengar, memahami persoalan, melakukan verifikasi, lalu menyampaikan informasi secara jernih kepada publik. Prinsip tersebut pula yang membuatnya melihat profesi wartawan sebagai bentuk pengabdian.

“Saya memilih menjadi wartawan karena ingin mengenal banyak orang. Dari setiap orang, selalu ada pelajaran yang bisa dipetik. Dan melalui profesi ini, saya ingin menjadi bagian dari agen perubahan untuk kepentingan publik,” katanya.

Amanah profesional kemudian membawanya menjadi Pemimpin Redaksi InilahKoran.

Dari Pangalengan, pendidikan, hingga cara berpikir kritis

Jauh sebelum berada di ruang redaksi, Tantan tumbuh di sebuah kampung di Pangalengan, Kabupaten Bandung. Lingkungan dengan hamparan kebun teh, udara pegunungan, dan kehidupan sederhana menjadi bagian dari pengalaman awal yang membentuk karakternya.
Pendidikan formal ditempuhnya mulai dari SDN Citere, SMPN 2 Kertasari, hingga MA Baitul Arqom Bandung.

Keingintahuan kemudian membawanya masuk ke Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Di bangku kuliah, ia mempelajari teori komunikasi. Namun, pengalaman hidup memberinya pemahaman lain.

Komunikasi, menurutnya, bukan hanya kemampuan berbicara. Ada kemampuan mendengar dan memahami yang sama pentingnya.
Semangat belajar itu terus berlanjut ketika karier profesionalnya sudah berjalan.
Tantan kembali ke bangku kuliah dan menyelesaikan pendidikan magister pada program studi yang sama di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia lulus dengan IPK 3,87.

Bagi Tantan, angka tersebut bukan sekadar capaian akademik.
Ia melihat pendidikan sebagai proses yang tidak memiliki garis akhir.

“Kalau berhenti belajar, kita akan tertinggal oleh perubahan. Wartawan justru harus menjadi orang yang paling cepat belajar,” katanya.

Cara berpikirnya juga banyak dipengaruhi oleh buku dan tokoh yang ia baca. Madilog karya Tan Malaka menjadi salah satu bacaan yang membentuk cara berpikirnya. Dari karya tersebut, ia belajar mengenai pentingnya keberanian berpikir logis dan kritis.

Sementara karya-karya Buya Hamka memberinya perspektif mengenai hubungan antara ilmu dan akhlak.
Ada pula Last Call karya Elon Green yang mengingatkannya bahwa setiap peristiwa selalu memiliki sisi kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan.
Tiga sosok kemudian sering disebut ketika Tantan berbicara tentang figur yang menginspirasinya.
Tan Malaka mengajarkan keberanian berpikir. Lafran Pane mengajarkan pengabdian melalui organisasi. Sedangkan Buya Hamka memperlihatkan bahwa ilmu dan akhlak seharusnya berjalan beriringan.

Pengalaman organisasi dan gagasan tentang kepemimpinan

Perjalanan Tantan tidak berhenti di ruang redaksi.
Ia pernah menjadi Tenaga Ahli Humas DPRD Kabupaten Cirebon, konsultan media, serta terlibat dalam penyelenggaraan PON XIX dan Peparnas XV Jawa Barat.
Pengalaman tersebut memperluas pandangannya mengenai komunikasi publik.
Ia melihat bahwa informasi yang dikelola dengan baik dapat membangun kepercayaan.

Pengalaman organisasi juga telah ia jalani sejak masa mahasiswa. Tantan aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Soreang. Ia kemudian dipercaya memimpin Keluarga Mahasiswa Bandung (Kembang). Dari sana, ia mendapatkan pengalaman mengenai kepemimpinan dan kerja bersama.

Baginya, pemimpin bukan orang yang harus selalu berada paling depan. Pemimpin justru harus memastikan semua orang dapat bergerak menuju tujuan yang sama.

Pandangan tersebut kini dibawa ke dalam kiprahnya di organisasi profesi wartawan.
Sebagai Sekretaris PWI Jawa Barat, Tantan melihat organisasi profesi bukan sekadar tempat berkumpulnya wartawan.

Ia ingin organisasi menjadi rumah yang mampu melindungi anggota, meningkatkan kompetensi, sekaligus memperjuangkan kesejahteraan wartawan.

“Organisasi harus menjadi tempat orang bertumbuh. Bukan sekadar tempat berkumpul,” katanya.

Menjaga kepercayaan lewat setiap kata

Jika ditarik ke belakang, berbagai fase kehidupan Tantan memiliki benang merah yang sama: belajar dan memberi manfaat.

Dari lingkungan sederhana di Pangalengan, bangku kuliah, ruang redaksi, aktivitas organisasi, hingga keterlibatan dalam komunikasi publik, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjangnya. Pada akhirnya, ia berpegang pada satu prinsip yang sederhana.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” ujar Tantan.

Prinsip tersebut tidak berhenti sebagai slogan. Ia mencoba menerapkannya dalam pekerjaan jurnalistik, kepemimpinan organisasi, maupun hubungan dengan orang-orang yang ditemuinya.
Bagi Tantan, profesi wartawan memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar menghasilkan berita.
– Ada fakta yang harus dijaga. –

– Ada informasi yang harus disampaikan secara bertanggung jawab.

– Ada pula generasi wartawan berikutnya yang perlu mendapatkan ruang untuk belajar dan berkembang.

Karena itu, perjalanan tersebut belum dianggap selesai.
Menulis, bagi Tantan, bukan cuma menyusun kata menjadi berita. Menulis adalah menjaga kepercayaan publik.
Dan mengabdi berarti memastikan kata-kata yang ditulis tidak kehilangan sisi kemanusiaannya.

Infografis Ringkas: Perjalanan Tantan Sulthon Bukhawan: 

1. 2002: Memulai karier jurnalistik sebagai wartawan Harian Umum Mitra Dialog.
2. 2005: Bergabung dengan Harian Seputar Indonesia (Sindo).
3. Berikutnya: Melanjutkan perjalanan profesional di InilahKoran.
4. Pendidikan: Menempuh studi Komunikasi dan Penyiaran Islam hingga jenjang magister.
5. Prestasi akademik: Lulus magister dengan IPK 3,87.
6. Pengalaman publik: Pernah menjadi Tenaga Ahli Humas DPRD Kabupaten Cirebon dan konsultan media.
7. Kegiatan besar: Terlibat dalam penyelenggaraan PON XIX dan Peparnas XV Jawa Barat.
8. Organisasi: Aktif di HMI Cabang Soreang dan Keluarga Mahasiswa Bandung.
9. Karier media: Dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi InilahKoran.
10. Organisasi profesi: Kini menjabat Sekretaris PWI Jawa Barat.
11. Prinsip jurnalistik: Kecepatan penting, tetapi berita harus dapat dipertanggungjawabkan.
12. Pandangan organisasi: PWI harus menjadi tempat wartawan bertumbuh, meningkatkan kompetensi, mendapat perlindungan, dan memperjuangkan kesejahteraan.
13. Prinsip hidup: Menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. (Red). ***

Leave a Response