Asmara-Cinta

Meneguhkan Integritas dan Transparansi di Usia Satu Abad Nahdlatul Ulama

297views

Ditulis Oleh: Bambang Melga Suprayogi, M.Sn
(Ketua LTN Nahdlatul Ulama Kabupaten Bandung)
Tanggal: 1 Februari 2026

BANDUNGPOS.ID
Memasuki satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama, peringatan Harlah ke-100 dengan tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia” bukan sekadar momentum seremonial. Ia menjadi ruang refleksi bersama untuk meneguhkan kembali jati diri dan nilai-nilai dasar yang diwariskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari sebagai pendiri organisasi ini.

Menjadi santri Mbah Hasyim Asy’ari tidak hanya bermakna mengikuti tradisi keilmuan dan amaliyah Ahlussunnah wal Jama’ah, tetapi juga meneladani nilai amanah, integritas, serta visi kepemimpinan dalam mengemban tanggung jawab organisasi. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting bagi setiap pemimpin NU, baik di tingkat Pengurus Besar (PBNU), Pengurus Wilayah (PWNU), maupun Pengurus Cabang (PCNU).

Kepemimpinan dalam tubuh Nahdlatul Ulama dituntut senantiasa menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas dalam menjalankan amanah jam’iyah. Ketika seorang pemimpin tidak memegang teguh integritas dan transparansi, hal itu akan melukai kepercayaan warga nahdliyin. Secara moral dan organisatoris, kredibilitas kepemimpinannya pun patut dipertanyakan.

Dengan kepemimpinan yang amanah dan berintegritas, NU akan terus melahirkan figur-figur teladan yang mampu menjadi contoh bagi warga nahdliyin, sekaligus menjaga kepercayaan sebagai kekuatan utama organisasi. Kepercayaan inilah yang menjadi modal sosial terbesar NU dalam menjalankan peran keumatan dan kebangsaan.

Di usia satu abad ini, tantangan yang dihadapi Nahdlatul Ulama ke depan semakin kompleks. NU dituntut untuk meraih kembali simpati dan kepercayaan warga nahdliyin dengan menampilkan wajah organisasi yang optimis, terbuka, serta berorientasi pada kemaslahatan umat. Hal tersebut hanya dapat terwujud apabila seluruh elemen NU memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga marwah organisasi.

Disadari bersama bahwa potensi terbesar yang dapat melemahkan Nahdlatul Ulama justru berasal dari dalam organisasi itu sendiri. Ketika nilai amanah dan komitmen perjuangan tidak lagi dipegang teguh oleh sebagian pengurus, yang terjadi bukanlah menghidupkan NU, melainkan pengurus hidup dari NU. Kondisi ini menjadi alarm serius bagi keberlangsungan jam’iyah.

Oleh karena itu, diperlukan ketegasan sikap dan keberanian bersuara sebagai bentuk tanggung jawab moral dan organisatoris. Sebab, yang merasakan langsung dampak kemunduran organisasi adalah para kader dan pengurus di tingkat bawah—mulai dari Majelis Wanita Nahdlatul Ulama (MWCNU) hingga ranting—terutama ketika amanah jam’iyah tidak dijalankan sebagaimana mestinya oleh jajaran Tanfidziyah di atasnya.

Komitmen untuk menyampaikan kebenaran secara santun namun tegas merupakan bagian dari tradisi intelektual dan moral yang diajarkan para pendiri NU. Sikap ini penting agar Nahdlatul Ulama tetap berada di rel perjuangan yang benar dan tidak kehilangan arah dalam mengabdi kepada umat dan bangsa.

Sebagaimana rangkaian kereta api, ketika lokomotif sebagai penggerak utama mengalami kerusakan atau kehilangan arah, gerbong-gerbong di belakangnya tidak akan dapat berjalan optimal. Analogi ini menjadi pengingat bahwa kualitas kepemimpinan di tubuh NU sangat menentukan keberlangsungan dan kekuatan jam’iyah secara keseluruhan.

Melalui peringatan Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama, seluruh jajaran pengurus dan warga NU diajak untuk kembali meneguhkan komitmen sebagai santri Mbah Hasyim Asy’ari: menjaga amanah, menegakkan integritas diri, serta berkomitmen pada transparansi—termasuk dalam pengelolaan keuangan organisasi yang bersumber dari hibah pemerintah kabupaten/kota. Disertai visi yang jelas dan langkah yang terarah, kepemimpinan Tanfidziyah di mana pun—baik di Jawa Barat maupun di seluruh Indonesia—diharapkan mampu membawa NU kembali berjaya dan semakin kokoh memasuki abad kedua, demi kejayaan organisasi dan kemaslahatan umat serta bangsa.

Leave a Response