Silaturahim Keluarga Besar Horison: Sastrawan Taufiq Ismail Kenang Peristiwa Agresi Militer Belanda II di Pandai Sikek

JAKARTA, BANDUNGPOS — Kehangatan terasa kediaman sastrawan Taufiq Ismail di Jalan Utan Kayu Raya, Jakarta Timur, Sabtu (31/1/2026). Sejak pukul 11.00 hingga 15.30 WIB, rumah tersebut menjadi ruang perjumpaan batin keluarga besar Majalah Sastra Horison dalam sebuah silaturahim yang sarat doa, kenangan, dan perenungan.
Acara diawali doa bersama yang dipimpin Jamal D. Rahman. Doa yang dipanjatkan untuk mendiang Hj. Fauziah binti Azhari Ali, kakak kandung Huri Yani, yang wafat pada 20 Januari 2026.
Selain itu, juga diperingati wafatnya almarhumah Hj. Sawiyah binti Abdulgani, ibunda Esiyati Ismail, yang berpulang tepat 44 tahun lalu, pada 31 Januari 1982. Dua peristiwa duka yang dipertautkan oleh tanggal yang sama menjadikan suasana doa siang itu terasa lebih khidmat dan penuh makna.
Dalam suasana akrab dan hangat, Taufiq Ismail berbagi kisah tentang latar belakang lahirnya puisi ikoniknya, “Dengan Puisi, Aku”. Puisi yang ditulis pada tahun 1965 itu, menurut Taufiq, terhapus dari pengalaman masa kecilnya ketika Agresi Militer Belanda II melanda Sumatera Barat.
Ia mengenang saat berusia 12 tahun harus mendaki Gunung Singgalang hampir setiap pagi bersama sang ayah, KH Abdul Gaffar Ismail, untuk menghindari kejaran tentara Belanda. Kala itu, setiap laki-laki dewasa terancam nyawanya jika keberadaannya diketahui.
Dari lereng gunung, Taufiq kecil menyaksikan sekitar 30 rumah di Desa Tanjung, Pandai Sikek, dibakar tentara Belanda. Pengalaman itu meninggalkan luka batin yang kelak menjadi sumber daya kreatif dalam puisinya.
Ia juga menyebut Desa Bangkirai sebagai salah satu lanskap satu ingatan yang kemudian hadir dalam karya-karyanya.
Sebagai bocah SMP, Taufiq sering berlari lebih cepat dari ayahnya. Suatu pagi, ia menemukan sebuah gua dengan hamparan rumput kering yang tampak nyaman. Ia pun merebahkan diri sejenak sambil menunggu ayahnya menyusul.
Namun, setibanya sang ayah, ia segera ditarik dan diminta berlari meninggalkan tempat itu.
“Kenapa harus lari?” tanya Taufiq kecil kala itu. Jawaban sang ayat singkat namun tegas, tempat yang tampak nyaman itu adalah sarang “inyiak” atau harimau.
“Dalam perjalanan hidup saya, saya pernah berbaring di sarang harimau,” ujar Taufiq sambil berkelakar. Matanya tampak sembab, dan tawanya pecah sebagai tawa yang lahir dari ingatan masa lalu. Pengalaman keras yang membentuk keberanian dan kepekaan batin seorang penyair.
Silaturahim itu juga membahas sejumlah agenda ke depan, di antaranya rencana pembuatan film dokumenter tentang proses kreatif dan perjalanan panjang Taufiq Ismail dalam dunia sastra Indonesia.
Selain itu, direncanakan pula menerbitkan buku “Catatan Kebudayaan Taufiq Ismail”, yang menghimpun tulisan-tulisannya di Majalah Sastra Horison sejak 1966 hingga 2019.
Pertemuan ditutup dengan doa bersama dan harapan menyambut bulan suci Ramadhan. Di rumah itu, puisi, doa, dan ingatan bertaut, menghubungkan masa lalu, hari ini, dan hari depan. ** (MAT/HAN/BNN)




