Kolom Sosial Politik

Makanan Padang “ABAL ABAL”

366views

 

Oleh Ridhazia

Video pencopotan tulisan bertuliskan “Masakan Padang” di Cirebon menjadi viral.

Pasalnya, rumah makan ini menjual makanan Padang yang diduga abal-abal. Alias tidak sesuai dengan standar keaslian kuliner Minangkabau.

Koq bisa begitu?

Itu pertanyaan publik merespons kejadian yang tak terduga dan menjadi polemik.

Satu pihak menganggap tindakan tersebut telah mempertahankan keaslian makanan padang di antara sesama penjual masakan padang.

Di lain pihak merugikan keseluruhan restoran padang karena kekasaran telah mencoreng reputasi rumah makan padang.

Perbedaan di antara keduanya bukan mustahil malah memancing konflik. Selanjutnya bisa mengganggu kecenderungan penyuka kuliner khas menarik diri tidak lagi berlangganan sebagai respons kekerasan jalanan itu.

Begini asal usulnya..

Asal-usul penamaan Restoran Padang atau Rumah Makan Padang berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Surya Suryadi, seorang filolog di Universitas Leiden, Belanda secara historis-empiris dimulai di Cirebon.

Hal ini dibuktikan dari sebuah iklan restoran Padang yang bernama Padangsch-Restaurant “Gontjang-Lidah” yang berlokasi di Cirebon.

Iklan tersebut dimuat selama beberapa bulan pada tahun 1937 di Harian Pemandangan yang terbit di Batavia.

Restoran yang dimaksud pada iklan dikelola oleh seorang perantau Minang, B. Ismael Naim.

Sejak itu restoran atau warung makan asal Sumatera Barat identik dengan sebutan restoran atau warung makan padang.

Masakannya yang lezat serta daya adaptasinya yang kuat karena bisa menyesuaikan dengan lidah atau selera berbagai suku bangsa dan asal negara, masakan di mana pun berada selalu disinggahi.

Restoran Padang yang sejatinya berkembang di daerah Sumatera Barat justru telah merambah pelosok Nusantara. Bahkan di luar negeri. Menembus sejumlah kota di benua Eropa dan Amerika. Selain di benua Asia.

Dua negara yang diramaikan rumah makan padang antara lain Malaysia dan Singapura.

Mungkin kisruh di Cirebon sekedar mengingatkan.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response