
Oleh BachtiarAdnan Kusuma. S.Sos.MM
Mengapa Finlandia memilih buku fisik daripada buku digital? Dengan berbagai penelitian efek dari kemajuan teknologi informasi, termasuk gadget, rupanya selain memberikan efek dangkal dan pemiskinan perbendaharaan kata untuk komunikasi, juga berdampak pada mentalitas pinggirannya budaya instan bagi kaum muda.
SIAPA– nyana kalau bangsa yang termaju sistem pendidikannya di negara bagian Eropa Timur, Skandinavia ramai-ramai kembali ke Buku.
Finlandia boleh disebut Negara pusat kiblat sistem pendidikannya termaju yang selama ini mengandalkan kekuatan buku berbasis digital, pada akhirnya menggelar “Gerakan Kembali ke Buku”.
Mengapa Finlandia memilih buku fisik daripada buku digital? Dengan berbagai penelitian efek dari kemajuan teknologi informasi, termasuk gadget, rupanya selain memberikan efek dangkal dan pemiskinan perbendaharaan kata untuk komunikasi, juga berdampak pada mentalitas pinggirannya budaya instan bagi kaum muda.
Kemajuan teknologi digital, membuat anak-anak kita mengalami kejumudan berpikir, miskin inovasi dan pelemahan budaya literasi di kalangan siswa-siswi.
Dan, usaha membentuk budaya ekosistem literasi, sebaiknya mengganti baju dari pola pikir tetap ke pola pikir bertumbuh.
Kemajuan literasi tidak cukup hanya diukur dari panggung ke panggung, dari forum ke forum lainnya, melainkan haruslah menjadi gerakan bersama, tumbuh dan berkelanjutan.
Oleh karena itu, kemajuan suatu bangsa atau daerah diukur sejauh mana kemajuan literasinya. Oleh karena itu, membentuk ekosistem literasi ibarat mengharapkan buah dari batang pohon yang sakit. Sebaliknya, bukan buah segar yang dipetik berupa inovasi atas solusi bagi permasalahan bangsa kita.
Kini, kita kembali ke Buku, karena hanya dengan membaca buku yang utuh, menjauhkan kita dari pergumulan pemikiran yang sempit.**Penulis tinggal di Maros


