
Oleh: Ridhazia
KDM dipersepsi publik sebagai gubernur Jawa Barat yang dianugerahi kelimpahan energi, ide dan gagasan yang langka.
Tapi dibalik itu semua, KDM diterpa isu negatif. Ia dianggap mengalami gangguan psikologis. Semisal ilusi, delusi, halusinasi atau megalomania.
Padahal faktanya KDM tidak mengalami disorganisasi dalam berpikir dan berbicara, serta perilaku sebagaimana gejala gangguan psikotik.
Ia biasa biasa saja. Tidak mengalami distorsi pada realitas yang kerap menjadi gejala gangguan psikologis.
Tega tega saja tuh penuduh!
Distorsi
Tapi apa pun gejalanya, sumber utamanya psikotik yaitu gangguan psikologis yang akut. Penderita mengalami distorsi pada realitas ketika melihat, mendengar, merasakan, hingga berpikir. Tentu saja bertindak.
Ilusi, Delusi dan Halusinasi
Ilusi berpangkal panca penglihatan, pendengaran, penciuman, atau bahkan perasaan. Ia mengalami sensasi yang terasa nyata tetapi sebenarnya tidak ada.
Tidak seperti ilusi yang merupakan kesalahan dalam persepsi pancaindra, sensasi pada halusinasi diciptakan oleh pikiran sendiri tanpa adanya sumber yang nyata.
Dibedakan gangguan kepribadian delusi. Bentuknya bipolar atau dimensia
Bipolar sebagai gangguan suasana hati yang ekstrim. penderitanya dengan mudah berada pada episode manik atau depresif.
Sedangkan demensia sebagai gangguan otak pada kemampuan seseorang untuk berpikir, mengingat, dan berkomunikasi. Semisal Parkinson yakni gangguan saraf progresif yang memengaruhi gerakan tubuh seperti tremor (gemetar).
Megalomania
Megalomania itu delusi keagungan atau kekuasaan. Penderitanya cenderung memiliki keyakinan berlebihan tentang kekuatan, kecerdasan, kekayaan, atau kekuasaan.
Kata megalomania berasal dari bahasa Yunani megas yang berarti “besar” dan mania yang berarti “kegilaan”. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial budaya, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





