
KARNI ILYAS–Karni Ilyas pernah ditawari jadi Jaksa Agung pada masa Presiden Megawati, tapi dia menolakKarni Ilyas pernah ditawari jadi Jaksa Agung pada masa Presiden Megawati, tapi dia menolak
Karni Ilyas mengaku pernah ditawari jadi Jaksa Agung di masa pemerintahan Presiden Megawati.
Tapi, sebagaimana diceritakan Tabloid NOVA edisi 4-10 Februari 2013, Karni menolaknya. Dia mengaku lebih mencintai dunia jurnalistik.
Lulus SMEA pada Desember tahun 1971, Karni lalu ke Jakarta dengan tujuan menjadi wartawan. Dia naik KM Batanghari dari pelabuhan Teluk Bayur.
Sesampainya di Jakarta, dia menumpang di rumah sepupunya, Jl. Gorontalo, Tanjung Priok. Untuk menuntaskan hasratnya jadi wartawan dia masuk Perguruan Tinggi Publisistik di kawasan Menteng.
Hidup di Jakarta dengan keterbatasan dana membuat Karni tergerak nyambi kerja. Dia pun memilih jadi wartawan sesuai dengan cita-citanya.
Apalagi, dia sudah sering menulis di koran sebelum jadi mahasiswa. “Saya memilih masuk harian Suara Karya,” ujar Karni.
Untuk memudahkan bertemu pimpinan Suara Karya, dia membawa katabelece dari rekan ayahnya yang jadi anggota MPR/DPR mewakili Sumatera Barat. Sambil membawa surat pengantar itu, Karni menemui pemred Suara Karya, Rahman Tolleng, di kantornya, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
“Ketika itu posisi Rahman Tolleng sudah hebat sekali. Dia calon orang besar,” kata Karni yang segera menyerahkan surat rekomendasi sang anggota MPR/DPR. “Ternyata, surat itu langsung dibuang ke keranjang sampah. Rahman Tolleng berkata, tidak ada lowongan.”
Bahkan, Rahman tidak memandang Karni. Dia memunggungi Karni.
Namun Karni Ilyas tetap tegar. Dia mengatakan, sudah kerap membaca Suara Karya dan ada berita yang tidak ada di sana.
“Tidak ada berita hukum,” papar Karni tegas. Tanpa diduga, Karni langsung diminta kerja keesokan harinya. “Proses saya jadi wartawan enggak bakalan terjadi lagi pada orang lain,” ujar Karni.
Karni mengungkapkan, “Awalnya saya dicuekin sama wartawan lain. Saya dianggap layaknya anak magang. Saya hanya dikenalin ke redaktur. Meja untuk mengetik pun enggak ada. Saya mengetik di ruang pemred.”
Oleh karena berita tentang hukum memang kurang, Karni pertama kali ditugaskan liputan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.
“Saya berangkat liputan tanpa bekal. Pengadilan itu seperti apa, saya juga enggak tahu. Tapi saya mulai meliput sidang. Ternyata, masalah hukum sangat menarik perhatian saya,” tutur Karni.
Liputan pertama Karni dimuat di halaman paling akhir. Tulisannya sudah diedit menjadi hanya dua alinea pendek saja. Kendati begitu, Karni tetap bergirang hati.
Begitulah, Karni melalui hari-harinya jadi wartawan. Ada kejadian unik ketika di akhir bulan Karni ingin mengambil gaji pertamanya.
Ternyata, namanya tak tercantum di daftar gaji. “Rupanya Rahman Tolleng belum memberi tahu bagian keuangan. Saya digaji langsung dari dompet Rahman. Jumlahnya Rp10 ribu. Bulan berikutnya, saya terima gaji resmi Rp 7.500,” ceritanya. Sejak itulah karier Karni di dunia jurnalistik**





