Oleh: Budi Setiawan
SEORANG juru bicara istana bukan sekadar penyampai pesan, tetapi wajah komunikasi negara. Setiap kata yang diucapkannya mencerminkan sikap rezim yang diwakilinya. Maka, ketika seorang jubir pemerintah menanggapi aksi teror terhadap media dengan candaan, “Dimasak saja,” publik berhak mempertanyakan empati dan sensitivitasnya.
Pengiriman kepala babi ke redaksi Tempo adalah bentuk intimidasi terhadap kebebasan pers. Di tengah situasi genting seperti ini, publik mengharapkan respons tegas dari pemerintah, bukan kelakar yang terkesan meremehkan. Pernyataan tersebut tidak hanya gagal menunjukkan empati, tetapi juga mencerminkan ketidakmampuan membaca situasi sosial.
Dalam komunikasi politik, kepekaan terhadap isu publik adalah kunci. Seorang juru bicara tidak cukup hanya berbicara dengan lancar, tetapi juga harus memahami dampak kata-katanya. Respons yang sembrono seperti ini dapat memberikan kesan bahwa pemerintah tidak serius melindungi kebebasan pers dan justru membiarkan teror semacam ini terjadi.
Bukan kali ini saja pejabat negara bersikap tidak sensitif terhadap isu serius. Ada kecenderungan di kalangan penguasa untuk meremehkan persoalan dengan candaan yang tidak pada tempatnya. Padahal, dalam sistem demokrasi, komunikasi bukan sekadar menyampaikan pesan, tetapi juga membangun kepercayaan publik.
Seorang juru bicara harus memahami bahwa tidak semua masalah bisa dijawab dengan humor. Jika ancaman terhadap pers saja dianggap remeh, bagaimana dengan ancaman terhadap masyarakat luas? Kesalahan komunikasi seperti ini hanya akan memperburuk citra pemerintahan dan menambah ketidakpercayaan publik.
Komunikasi yang buruk adalah refleksi dari sistem yang tidak siap menghadapi krisis. Jika dibiarkan, kesalahan seperti ini akan terus berulang. Pemerintah seharusnya mengevaluasi bagaimana pejabatnya berkomunikasi, terutama dalam isu-isu yang menyangkut kepentingan publik.
Pada akhirnya, komunikasi bukan hanya soal berbicara, tetapi juga bagaimana pesan diterima. Jika seorang juru bicara tidak memiliki empati, ia bukan lagi penyambung suara pemerintah, melainkan hanya pembawa suara tanpa rasa. *
* Budi Setiawan, pemerhati sosial politik dan mantan jurnalis senior ibukota, alumnus FISIP Universitas Padjadjaran Bandung, bermukim di Kabupaten Subang, Jawa Barat.





