Oleh Ridhazia
Alih-alih dirancang menjadi jembatan kebebasan senyatanya internet memenjarakan manusia.
Paradoks ini membuat manusia bukan saja menjadi tawanan, ia terperangkap pada hubungan kosong. Selain kesepian, juga berpikir semakin dangkal.
Candu Memabukkan
Sistem algoritma pada internet yang dirancang memudahkan pencarian malah berubah menjadi candu.
Bahkan beberapa platform media sosial pada gilirannya memabukkan. Terutama bagi penyuka pencitraan diri. Menjadi saluran untuk mengumbar pencapaian pribadi.
Ini analisis kritis ini dikemukakan jurnalis Amerika Nicholas G. Carr dalam buku The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains (2010). *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





