
Oleh: Ridhazia
PRESIDEN bisa dipastikan dalam keadaan panik. Setidaknya terjebak dilema antara menunda MBG atau menaikan BBM non-subsidi.
Sebab, menaikan BBM ternyata tidak sepenuhnya menurunkan tensi kegawatan perekonomian.
Malah secara signifikan memicu tekanan ekonomi baru. Dan, tidak bisa menekan pelemahan nilai tukar rupiah.
Hentikan MBG!
Menurut para ekonom penundaan bahkan menghentikan MBG sebagai keputusan politik yang lebih sejalan dengan teori ekonomi untuk menyelamatkan kas negara.
Langkah ini juga lebih rasional
ketimbang harus menambah utang baru.
Juga memberikan sinyal positif ke pasar valuta asing dan pasar saham.
Meniadakan MBG juga bisa memberikan kepastian bagi pelaku pasar, dan secara perlahan tapi pasti bisa membantu memulihkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar.
Demi Citra Politik
Rupanya saran para ekonom tidak sepenuhnya “didengar” presiden. Mungkin demi citra dan janji politik, istana pun memilih MBG. Bahkan, KPM ( Koperasi Merah Putih) berlanjut meski kedua program prioritas preisden ini menguras APBN. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.




