Kolom Sosial Politik

FOMO, Era Digital, dan Seni Berani Ketinggalan

21views

Oleh: Widodo

SEBELUM membaca tulisan ini, coba lihat ponsel Anda sebentar. Tenang, bukan untuk mengecek notifikasi.

Saya hanya ingin bertanya:

Berapa kali hari ini Anda membuka ponsel tanpa alasan yang benar-benar jelas?

Kalau jawabannya di bawah sepuluh kali, selamat.

Kemungkinan Anda sedang membaca tulisan ini dari tahun 2005.

Bagi sebagian besar dari kita, membuka ponsel sudah menjadi gerakan refleks. Kadang bahkan lebih cepat daripada mengucapkan salam saat masuk rumah.

Ada notifikasi, kita lihat.

Tidak ada notifikasi, kita tetap lihat.

Ponsel bergetar, kita lihat.

Ponsel tidak bergetar, kita merasa seperti ada yang kurang, lalu tetap melihat.

Lama-kelamaan kita tidak lagi memegang ponsel karena membutuhkan sesuatu. Kita memegangnya karena takut melewatkan sesuatu.

Dan di situlah kisah kita dimulai.

Pada tahun 2007, Mark Zuckerberg mempresentasikan temuan yang kemudian ikut mengubah cara manusia menjalani hidup sehari-hari. Tim Facebook menemukan bahwa salah satu bahan bakar terkuat pertumbuhan media sosial bukanlah teknologi yang rumit atau desain yang memukau.

Melainkan sesuatu yang sangat manusiawi:

Rasa takut ketinggalan.

Dunia akademik menyebutnya Fear of Missing Out atau FOMO.

Bahasa sederhananya:

“Jangan-jangan semua orang sedang menikmati sesuatu yang saya lewatkan.”

Facebook lalu membangun dunia yang sangat pandai memelihara perasaan itu. Ada tombol like, notifikasi, komentar, timeline tanpa ujung, dan algoritma yang seolah mengenal kita lebih baik daripada beberapa kerabat dekat.

Akibatnya, kita sering membuka ponsel bukan karena ada urusan penting.

Kita hanya penasaran. Siapa yang memberi like? Siapa yang sedang liburan? Siapa yang menikah? Siapa yang baru beli mobil?

Dan yang paling membingungkan, siapa yang kemarin jualan skincare tetapi hari ini sudah menjadi pakar ekonomi global, geopolitik, kesehatan, investasi, dan masa depan umat manusia sekaligus.

Perlahan-lahan FOMO menjadi bagian dari kehidupan modern. Kita datang ke acara bukan karena ingin datang, tetapi karena takut nanti tidak diajak lagi.

Kita membeli barang bukan karena membutuhkan, tetapi karena semua orang tampaknya sudah memilikinya. Kita ikut seminar, webinar, kursus, pelatihan, kelas pengembangan diri, dan berbagai kegiatan lainnya sampai jadwal terasa lebih padat daripada agenda seorang menteri.

Ironisnya, yang bertambah cepat kadang bukan kemampuan. Melainkan folder sertifikat PDF.

Kadang yang membuat kita lelah bukan pekerjaan. Yang membuat lelah adalah kehidupan orang lain yang terus-menerus lewat di layar.

Orang lain sedang di Jepang.

Orang lain naik gunung.

Orang lain membuka usaha.

Orang lain membeli rumah.

Orang lain berlari maraton.

Orang lain memamerkan pencapaian.

Sementara kita sedang membuka kulkas untuk ketiga kalinya dalam satu jam tanpa tahu sebenarnya sedang mencari apa. Fenomena ini sudah lama diamati oleh Sherry Turkle, profesor dari MIT yang meneliti hubungan manusia dan teknologi. Dalam bukunya Alone Together, ia mengingatkan bahwa teknologi membuat kita semakin terhubung, tetapi belum tentu semakin dekat.

Kita mengetahui aktivitas ratusan orang setiap hari. Tetapi kadang lupa menanyakan kabar orang yang duduk di sebelah kita.

Ironis sekali. Kita tahu teman SD sedang makan ramen di Tokyo. Tetapi tidak tahu tetangga depan rumah sedang sakit.

Lebih jauh lagi, pakar komunikasi Marshall McLuhan pernah mengatakan: “The medium is the message.” Artinya, media bukan sekadar alat penyampai informasi. Media ikut membentuk cara kita berpikir dan berperilaku.

Kalau dahulu gosip kampung menyebar dari mulut ke mulut, sekarang algoritma bekerja tanpa lelah selama dua puluh empat jam. Bedanya, dulu yang suka mengompori biasanya tetangga. Sekarang yang mengompori adalah mesin.

Dan kita menyebutnya “rekomendasi untuk Anda.” Masalah lain muncul karena apa yang kita lihat di media sosial sebenarnya bukan kehidupan utuh seseorang.

Sosiolog Erving Goffman menjelaskan bahwa kehidupan sosial mirip panggung teater.

Ada panggung depan. Ada panggung belakang. Media sosial memperbesar panggung depan itu. Yang ditampilkan biasanya senyum, liburan, prestasi, penghargaan, makanan enak, dan foto yang sudah dipilih dari lima puluh jepretan. Yang tidak ditampilkan biasanya cicilan, kecemasan, sakit pinggang, pertengkaran rumah tangga, atau tagihan yang jatuh tempo besok pagi.

Akibatnya kita sering membandingkan kehidupan asli kita dengan cuplikan terbaik kehidupan orang lain. Pertandingan seperti ini tidak pernah adil sejak awal.

Dalam bukunya How to Do Nothing, Jenny Odell menjelaskan bahwa perhatian manusia kini telah menjadi komoditas ekonomi.

Kalau dulu perusahaan berebut sumber daya alam, sekarang mereka berebut perhatian manusia. Semakin lama kita menatap layar, semakin berharga kita.

Karena itu, banyak aplikasi tidak dirancang agar kita cepat selesai. Sebaliknya, dirancang agar kita terus kembali.

Sedikit seperti kerupuk. Tidak pernah ada cerita orang berniat makan satu. Begitu juga media sosial.

Niat awal lima menit. Tahu-tahu azan berikutnya sudah terdengar. FOMO kemudian menjadi bahan bakar yang sangat efektif.

Penelitian menunjukkan bahwa rasa takut tertinggal mampu mendorong keputusan membeli, terutama pada produk makanan dan minuman. Kadang seseorang rela antre panjang bukan karena produknya luar biasa. Tetapi karena tidak ingin menjadi satu-satunya anggota grup WhatsApp yang belum mencobanya.

Fenomena Mixue, kopi viral, roti viral, atau makanan viral lainnya memperlihatkan hal itu. Pierre Bourdieu, seorang sosiolog dan antropolog budaya Prancis, menjelaskan bahwa manusia sering membeli sesuatu bukan hanya karena manfaatnya. Kita membeli makna sosialnya. Kadang yang dicari bukan rasa kopinya.

Bukan rasa es krimnya. Bukan kualitas produknya. Melainkan hak untuk ikut berkata:

“Oh yang itu? Saya sudah coba.” Dalam banyak kasus, yang dibeli sebenarnya adalah tiket masuk ke percakapan sosial. Masalahnya, hubungan yang dibangun melalui FOMO sering rapuh.

Hari ini viral. Besok hilang. Hari ini antre. Besok sepi. Hari ini diburu. Besok dilupakan. Sosiolog Zygmunt Bauman menyebut zaman ini sebagai liquid modernity atau modernitas cair.

Segala sesuatu bergerak cepat. Tren cepat berganti. Hubungan cepat berubah. Perhatian cepat berpindah. Hari ini dunia heboh membahas satu topik.

Besok dunia sudah lupa. Kadang yang membuat kita panik pagi hari bahkan tidak lagi penting saat sore tiba. Dalam dunia yang semakin cair seperti ini, FOMO bekerja seperti treadmill.

Kita terus berlari. Tetapi sering lupa bertanya:

Sebenarnya saya sedang menuju ke mana?

Menariknya, ada orang yang memilih keluar dari putaran itu. Salah satunya adalah Jack Dorsey, pendiri Twitter.

Ada ironi yang cukup lucu di sini. Orang yang membantu membangun salah satu mesin FOMO terbesar di dunia justru rutin menghilang dari dunia digital.

Ia mengikuti retret meditasi Vipassana selama sepuluh hari.

Tanpa ponsel.

Tanpa internet.

Tanpa berbicara.

Sepuluh hari.

Sebagian dari kita bahkan sulit bertahan sepuluh menit di ruang tunggu tanpa membuka layar. Bahkan ketika tidak ada notifikasi.

Tetap dibuka.Seolah-olah ada pesan rahasia yang menunggu. Padahal biasanya hanya promo diskon, tagihan, atau video yang tidak akan mengubah nasib bangsa.

Dorsey mengaku menemukan kejernihan berpikir dalam keheningan. Barangkali untuk mendengar suara diri sendiri, kita memang perlu sesekali mematikan suara dunia.

Neil Postman, pakar komunikasi yang terkenal lewat bukunya Amusing Ourselves to Death, pernah mengingatkan bahwa manusia modern bisa saja tenggelam bukan karena kekurangan informasi. Melainkan karena terlalu sibuk dihibur. Kalimat itu terasa semakin relevan hari ini.

Kita tidak kekurangan informasi. Kita kelebihan informasi. Kita tidak kekurangan hiburan. Kita dibanjiri hiburan. Yang justru mulai langka adalah perhatian yang utuh. Kemampuan fokus. Kemampuan diam. Kemampuan berpikir tanpa gangguan. Karena itu, mungkin melawan FOMO bukan berarti menghilangkannya. FOMO akan selalu ada. Yang lebih realistis adalah belajar hidup berdampingan dengannya.

Jenny Odell menyebutnya NOMO (Necessity of Missing Out). Kesadaran bahwa melewatkan sesuatu bukan kegagalan. Melainkan kebutuhan.

Tidak semua acara harus didatangi. Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua perdebatan harus dikomentari. Tidak semua notifikasi harus dibuka.

Dan percaya atau tidak, dunia tetap berjalan baik-baik saja. Pada akhirnya, hidup bukan tentang hadir di semua tempat. Hidup adalah tentang hadir sepenuhnya di tempat kita berada. Karena bisa jadi, masalah terbesar kita hari ini bukan takut tertinggal dari orang lain. Melainkan terlalu sibuk mengikuti kehidupan orang lain sampai lupa menjalani kehidupan sendiri.

Jadi kalau akhir pekan ini Anda memilih menutup aplikasi, menyimpan ponsel, menikmati kopi tanpa memotretnya, berjalan santai tanpa mengunggahnya, atau bercakap-cakap tanpa sesekali melirik layar, mungkin Anda tidak sedang tertinggal. Mungkin Anda justru sedang kembali.

Kembali kepada sesuatu yang pelan-pelan mulai langka di era digital: Perhatian pada hidup yang benar-benar Anda miliki.*

  * Widodo, kolumnis, praktisi penyiaran, Ketua Persatuan Penyiar Radio Indonesia (Persiari), pemerhati keruwetan sosial, bermukim di Pontianak, Kalimantan Barat. 

Leave a Response