
Oleh: Ridhazia
KENAIKAN BBM non-subsidi ibarat petasan. Meski tidak memekakan, tapi gelombangnya tetap saja berantai. Dan, ujung-ujungnya memaksa menaikan harga yang membebani rakyat.
Secara teoritis, setiap kenaikan BBM-non subsidi berapapun pada gilirannya akan memicu “cost-push inflation” yakni inflasi dorongan biaya operasional logistik dan transportasi.
Kenaikan biaya logistik dan transportasi itulah secara otomatis mengerek harga barang konsumsi kebutuhan yang akhirnya menggerus daya beli rakyat terutama kelompok menengah ke bawah.
Bandingkan!
Tapi bandingkan dengan Harga BBM dengan oktan setara Pertamax yakni RON 92 di negara lain dan yang paling mahal di dunia saat ini.
BBM Ron 92 di Hongkong saat ini menembus angka lebih dari $2,5 atau sekitar Rp40.000 hingga Rp45.000 lebih per liter.
Singapura BBM Ron 92 dikisaran Rp46.113 – Rp46.679 / liter. Di negara Myanmar dijual Rp39.064 – Rp39.064 / liter.
Negara Laos menjual BBM Ron 92 setara Pertamax Rp26.985 / liter, Filipina: Rp25.060 / literThailand: Rp21.926 – Rp23.608 / liter, Kamboja: Rp21.500 / liter.
Hanya Kamboja yang menjual BBM Ron 92 lebih murah dari Indonesia yaitu Vietnam seharga Rp15.135 – Rp15.453 / liter. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.




