Oleh Ridhazia
Bukan Donald Trump kalau tidak membuat geger di dunia ini. Sejumlah negara, termasuk Indonesia, diberitakan terguncang setelah Presiden Amerika Serikat menetapkan tarif resiprokal yang mencekik.
Kebijakan tarif resiprokal — yang artinya tarif timbal balik — yang dibuat politisi Partai Republik berpotensi resesi ekonomi dunia karena akan menggerus ekspor ke negara adi daya.
Bukan mustahil akibat kebijakan kontroversial itu, sejumlah negara akan menghadapi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK). Terutama PHK pada perusahaan otomotif, elektrik dan tekstil yang produknya diekspor ke Amerika Serikat.
Krisis Amerika Serikat
Kebijakan Amerika Serikat ini sebenarnya dilakukan untuk menyelamatkan negara ini dari resesi.
Dengan tarif resiprokal, Presiden Donald Trump bisa menghasilkan tambahan pajak tahunan sekaligus menguatkan ruang fiskal untuk menghidupkan bisnis dan menurunkan jumlah pengangguran.
Siapa Donald Trump?
Selain kerap digambarkan sebagai politisi populis yang paling nasionalis. Ia tipe pemimpin proteksionis yang membela negaranya sepenuh hati.
Meski demikian, para akademisi dan sejarawan di negeri Paman Sam itu menganggap Trump sebagai salah satu presiden terburuk dalam sejarah Amerika.
Dalam catatan media Amerika Serikat, Donald Trump yang tumbuh sebagai pebisnis terlibat lebih dari 4.000 masalah hukum di pengadilan.
Bahkan pada tahun 2024, hakim di New York menyatakan Trump tersangka atas 34 dakwaan kejahatan karena memalsukan catatan bisnis.
Dengan demikian, Trump menjadi presiden AS pertama yang dihukum penjara karena kejahatan setelah menghadapi 54 dakwaan kejahatan.
Karena hidup di negara yang liberal murni, toh kasus-kasus pidana yang memenjarakannya justru memantik simpati publik hingga ia terpilih kembali menjadi Presiden tahun 2025.
Padahal sebelumnya ia menjadi satu-satunya presiden Amerika yang telah dimakzulkan dua kali. Kekuatan mesin partai menyebabkan ia terselamatkan dari badai politik. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





