Oleh: Entang Rukman, S.Pd
Dari Boedi Oetomo ke Era Digital: Saatnya Bangkit Bersama untuk Indonesia Kuat”
ESENSI –-Setiap tanggal 20 Mei selalu diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), sebuah tonggak sejarah yang menandai lahirnya semangat persatuan bangsa melalui berdirinya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908. Hari ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan ajakan untuk terus menyalakan semangat kebangkitan di tengah tantangan zaman. Tema Harkitnas tahun ini, “Bangkit Bersama, Wujudkan Indonesia Kuat,” menjadi refleksi penting atas kondisi Indonesia saat ini yang sedang berupaya pulih dari berbagai krisis, termasuk pandemi, perubahan iklim, dan ketimpangan sosial.
Menurut sejarawan Prof. Dr. Taufik Abdullah dari LIPI, Boedi Oetomo adalah cermin dari munculnya kesadaran nasional di tengah rakyat terjajah. “Saat itu, kebangkitan dimulai dari penguatan identitas dan pendidikan. Kini, konteksnya berbeda, tetapi semangatnya tetap: membangun kekuatan dari kesadaran kolektif,” ujarnya dalam Sejarah Nasional Indonesia Jilid V.
Perbedaan zaman membawa tantangan baru. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan Indonesia masih berada pada angka 9,36%, sementara indeks ketimpangan (Gini Ratio) stagnan di angka 0,384. Selain itu, laporan Digital 2024 oleh DataReportal menyebutkan bahwa meskipun pengguna internet Indonesia mencapai 224 juta jiwa, literasi digital masyarakat masih lemah, ditandai dengan maraknya hoaks dan ujaran kebencian di media sosial.
Pengamat kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rahmawati, menekankan bahwa kebangkitan nasional kini harus dimaknai secara transformatif. “Bangkit bersama bukan hanya berarti pulih secara ekonomi, tapi juga tumbuh secara sosial dan moral. Masyarakat harus lebih sadar akan pentingnya kebersamaan, toleransi, dan partisipasi aktif dalam membangun bangsa,” ungkapnya dalam wawancara bersama Kompas, Mei 2024.
Momentum Harkitnas 2025 seharusnya menjadi pengingat bahwa kekuatan Indonesia terletak pada semangat kolektif. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kontribusi nyata dari masyarakat: pelajar yang giat belajar, guru yang mendidik dengan hati, pengusaha yang peduli lingkungan, hingga pemuda yang aktif mengabdi di komunitas.
Kebangkitan nasional hari ini bukan lagi melawan penjajahan fisik, tetapi melawan sikap apatis, intoleransi, dan disinformasi. Dengan bergerak bersama, membangun solidaritas lintas sektor, dan memperkuat karakter bangsa, Indonesia bisa menjadi negara yang bukan hanya pulih, tetapi juga tangguh dan berdaya saing.
Mari jadikan 20 Mei bukan hanya sebagai hari peringatan, tetapi sebagai titik tolak untuk membuktikan bahwa kita mampu bangkit bersama, dan bersama pula kita wujudkan Indonesia yang kuat. **Penulis Guru Penggerak Kota Bandung





