Oleh Ridhazia
Duit bukan cuma sebatas benda untuk membeli sesuatu. Atau memenuhi kebutuhan tertentu.Tetapi juga sebagai stimulus ego manusia. Duit bisa menstimulasi gairah hidup atau justru melumpuhkannya. Setidaknya membuat rentan dari kemungkinan gangguan jiwa.
Masih belum percaya?
Ketika berurusan dengan duit, sehebat siapapun manusia pun bisa kehilangan kendali atas emosinya. Alih-alih dapat membuat keputusan yang rasional, justru yang terjadi keputusan emosional.
Kesejatian seseorang yang banyak duit akan memperoleh kebebasan finansial, keamanan dan kebahagiaan, senyatanya banyak pula yang justru terperosok dan terjebak impulsivitas. Ia merasa tidak lagi nyaman, apalagi merasa aman. Malah selalu merasa dalam keadaan terancam.
Duit Netral
Adalah Morgan Housel dalam buku The Psychology of Money (2020) yang memaparkan kalau duit bisa untuk segala-galanya. Posisinya netral. Bisa dibawa kemanapun untuk urusan apapun. Tidak berpihak kepada siapapun. Kecuali diubah oleh pikiran, keyakinan dan budaya pemiliknya.
Kolumnis The Wall Street Journal ini juga menulis bahwa banyak cara untuk mengumpulkan duit. Namun hanya satu untuk mempertahankannya. Yaitu hidup sederhana dan punya rasa takut mengambil resiko. Dengan kata lain, banyak hal yang bisa dilakukan dengan duit. Tapi, banyak hal lainnya yang juga dapat diraih dalam keterbatasan duit.
Kata Francis Bacon (1561-1626) duit adalah hamba yang baik tetapi tuan yang buruk. “Bisa membawa ke mana pun yang kami inginkan, tetapi itu tidak baik menggantikanmu sebagai pengemudi”. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.





