
Oleh: Ridhazia
KONFLIK Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo antara Yayasan Margasatwa Tamansari dan Taman Safari Indonesia diberitakan kisruh. Puncaknya, terjadi pengambilalihan secara paksa dengan merusak pintu gerbang tempat rekreasi tersebut.
Nostalgik
Bagi urang Bandung, Kebun Binatang memantik emosi. Sebab tempat rekreasi satwa dengan melihat langsung berbagai jenis hewan dan asal usul habitatnya menjadi salah satu tempat bernostalgia mengenang masa kecil.
Tempat ini membangkitkan perasaan kerinduan tentang masa lalu, yang saat tahun 50- menjadi tempat hiburan murah dan sederhana tetapi menjadi momen-momen begitu melekat dalam ingatan.
Kebun binatang di Bandung ini semacam menciptakan hubungan emosional begitu lekat. Tak berlebihan jika ada sejumlah orangtua mengajak anak cucu ke kebun bintang ini, mungkin untuk merasakan emosi serupa yang pernah dialaminya.
Riwayatmu Dulu
Kebun Binatang Bandung bermula dari kepeloporan Direktur Bank Dennis, Hoogland tahun 1993 sekaligus aktivis pariwisata Bandoeng Vooruit, yakni perkumpulan pariwisata yang didirikan pada 1925.
Kebon Binatang yang dikenal sekarang sebagai Bandung Zoo semula bernama Bandoengsche Zoologisch Park (BZP).
Sedangkan urang Bandung menamainya sebagai Derenten, adopsi dialek Basa Sunda dari kata bahasa Belanda ‘Direntuin’ yang artinya adalah Kebun Binatang.
Kebun bintang seluas 14 hektar yang sudah ada sejak era kolonial Belanda sebagai tempat healing di Bandung adalah pindahan dari dua kebun binatang pribadi di bukit Dago Bandung dan kebun binatang Cimindi Bandung yang digagas Bupati R.A.A. Martanegara sejak tahun 1900-an.
Sedangkan lokasi baru, yang dikenal sekarang di Jalan Tamansari Bandung merupakan tanah sebagian dari Jubileum Park yaitu taman botani yang sudah terlebih dahulu didirikan pada tahun 1923 dalam rangka memperingati 50 tahun Ratu Wilhelmina.
Jubileum park, yang merupakan bagian dari kelengkapan infrastruktur kota Bandung era kolonial, dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dengan taman-taman lain, seperti Insulinde Park (Taman Lalu lintas), Molukken Park (Taman Maluku), Ijzerman Park (Taman Ganesa), dan Pieter Park (Taman Merdeka).
Terlantar
Ketika era penjajahan Jepang di Bandung, kebun bintang ini sempat terlantar. Atas inisiatif tokoh Sunda R. Ema Bratakoesoema yang mendirikan Yayasan Margasatwa Tamansari atau Bandung Zoological Garden, sisa peninggalan Belanda itu diurus hingga sekarang yang dilanjutkan oleh ahli warisnya.
Yayasan ini menerima hibah sisa kekayaan Bandoengsche Zoologisch Park berupa hak pakai tanah seluas 16 hektar beserta isinya. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





