
Apa yang menarik dari Buku karangan Erich Fromm berjudul” Perang Dalam Diri Manusia”? Buku kecil setebal 104 halaman ditulis Erich Fromm, salah seorang profesor psikologi di New York University, penulis baca setengah hari di Selasa Tanggal 25 Mei 2026.
BENARKAH menarik Buku “Perang Dalam Diri Manusia” ini? Jawabannya, menarik. Selain penulis menemukan istilah Nekrofilia yang berarti cinta pada kematian, pada sisi lain disebutkan Biofilia yang berarti cinta pada kehidupan. Kedua istilah ini, tegas Erich menempatkan hasrat menguasai seseorang untuk memenuhi kebutuhannya.
Istilah Nekrofilia lebih menempatkan pada kekuatan untuk menguasai sesuatu. Orang yang menganut Nekrofolius menjalankan hidupnya secara mekanisitis. Ia memandang seolah-olah orang yang hidup ibarat seperti barang. Intinya, Nekrofilia memandang hidupnya adalah tujuan utama.
Bagaimana dengan Biofilia? Biofilia adalah lawan dari Nekrofilia yang lebih mentiberatkan hidupnya sebagai lawan dari cinta pada kematian. Biofilia lebih kepada proses jasmaniah, tercermin dalam emosi dan jiwa serta jasmani. Fromm menggambarkan kalau pada sisi lain, ada orang yakin bahwa manusia adalah domba, namun pada sisi lain juga meyakini manusia adalah serigala.
Kedua keyakinan ini memiliki alasan yang argumentatif. Misalnya saja, perspektif bahwa manusia adalah domba karena intinya manusia mudah dipengaruhi untuk melaksanakan perintah yang diterimanya. Pendapat yang menempatkan alas bahwa manusia adalah serigala yaitu menempatkan manusia dengan segala hasrat dan kepuasannya mengorbankan orang lain.
Berikutnya, apa hubungan Nekrofilia dan Biofilia dengan Literasi? Penulis menempatkan pegiat literasi pada sisi lain, ada pihak yang memiliki kecenderungan membela diri dengan mempertahankan asa perjuangan yang diperjuangkan dari pihak lain yang berusaha mematikan segala aktivitasnya. Padahal, literasi adalah perjuangan yang diperjuangkan orang lain dari satu titik asa dengan asa berikutnya, wajib bersinergi dan berkolaborasi.
Literasi sesungguhnya bukanlah persaingan, melainkan ajang menunjukkan karya aksi daripada diksi semata.
Karena itu, aktivis literasi bermashab Biofolia memandang literasi sebagai kegiatan kemanusiaan yang bukan hanya menjadi bekal kebaikan di dunia, tapi lebih-lebih di akherat kelak.
Kuncinya, No Thing Tulus, ikhlas semata karena pengabdian peradaban.
Lalu, di manakah posisi kita? Penulis memilih menjadi aktivis literasi karena menjadi bekal pengabdian di dunia menuju kehidupan yang kekal di akherat. Kalau filofi literasi sebagai pengabdian semata, maka bergerak dalam kondisi apapun. Selama hayat di kandung badan. Niatnya semata karena keikhlasan, bukan menjadikan literasi sebagai industri yang isinya bergelimang dengan materi. Semoga— Moncongloe, 25 Mei 2026 Bacthiar Adnan Kusuma
Editor Rianto Muradi





