Kolom Sosial Politik

BANG ALI Gubernur Jakarta dari Sumedang

412views

 

Oleh Ridhazia

Ali Sadikin (1926-2008) — yang populer dipanggil Bang Ali — menjadi gubernur Jakarta terlama yang dianggap sukses membuat fondasi perubahan ibu kota negara Indonesia sisa peninggalan Belanda Batavia.

Dengan segala kontroversialnya, tak terkecuali “permusuhan” terselubung antara Jenderal KKO itu dengan Jenderal Soeharto pada era Orde Baru.

Duo Sumedang

Publik banyak yang belum mengetahui kalau Jakarta era Orde Lama hingga awal Orde Baru tidak dikendalikan sendiri oleh Bang Ali. Tapi dikendalikan bersama oleh dua tentara dari Tanah Sunda, Sumedang.

Letnan Jenderal KKO-AL (Korps Komando Angkatan Laut) Ali Sadikin sebagai Gubernur Jakarta berasal dari Cangkudu, Sumedang Selatan, Jawa Barat dan Laksamana Muda Udara Raden H. Atje Wiriadinata (1920) dari Situraja, Sumedang sebagai wakil gubernur.

Keduanya ditunjuk Presiden Soekarno sebagai pasangan gubernur dan wakil gubernur Jakarta sejak 1966 tanpa pemilihan oleh DPRD.

Periode “emas”

Kepemimpinan duo Sumedang ini dianggap sebagai periode masa keemasan yang sukses meletakkan dasar embrio ibukota negara Indonesia sebagai kota metropolitan yang modern dengan segala kontroversinya.

Setidaknya Jakarta dari kampung kumuh disulap menjadi kota besar dengan proyek-proyek monumental yang masih bertahan hingga sekarang.

Mulai Taman Ismail Marzuki, Kebun Binatang Ragunan, Proyek Senen, Taman Impian Jaya Ancol, Taman Ria Monas, Taman Ria Remaja, kota satelit Pluit di Jakarta Utara.

Bahkan pelestarian budaya Betawi di kawasan Condet, dan Institut Kesenian Jakarta serta menggagas Jakarta Fair dan penyelenggaraan Abang dan None Jakarta yang hingga kini tak terputus zaman.

Kontroversi

Kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin juga menyisakan konflik dan kontroversi. Kritik yang tajam dan protes jalanan menjadi menu sarapan harian Sang Gubernur.

Tapi ia tangguh melayani perbedaan. Dan, tetap jalan dengan gagasannya. Pemerintah ibukota Jakarta memungut pajak dari tempat hiburan malam dan lokasi perjudian. Lebih kontroversial lagi mengizinkan lokalisasi pelacuran.

Konsisten

Momen konsistensi Ali Sadikin dengan gagasannya tentang pemakaman “berlapis” di Jakarta ditunjukkan ketika ia dimakamkan dalam satu lubang dengan istrinya Nani Sadikin di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan, tahun 2008. Bukan di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Perang Dingin Soeharto-Ali Sadikin

Konflik senyap di awal-awal Orde Baru antara Gubernur DKI Jakarta dengan Presiden Soeharto. Ia bukan saja pengkritik Soeharto yang keras. Hingga berafiliasi dengan kekelompokan oposisi.

Juga Ali Sadikin pernah disebut sebagai kandidat presiden era Orde Baru versi mahasiswa yang saat itu mengusung tema politik “why not the best?”. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response