Bandung Raya

Bahaya Merasa Paling Pintar dan Paling Benar dalam Pandangan Agama

406views

Ditulis oleh: H. Iding Mashudi
Tanggal: Senin, 17 November 2025

BANDUNGPOS ID.
Dalam ajaran agama, merasa paling pintar dan paling benar termasuk sifat sombong (takabbur) yang sangat dikecam. Sombong adalah sikap meninggikan diri di atas orang lain, seolah-olah hanya dirinya yang mengetahui kebenaran. Sikap seperti ini menjadi penghalang terbesar masuknya hidayah dan ilmu, karena hati yang angkuh tidak mampu menerima kebenaran dari siapa pun.

Al-Qur’an menegaskan bahwa kesombongan adalah sifat yang dimiliki Iblis ketika menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam. Iblis merasa lebih mulia dan lebih benar dari ketetapan Allah. Inilah bukti bahwa akar kesesatan berawal dari perasaan paling hebat, paling pintar, dan enggan mengakui kebenaran yang datang dari Allah.

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kerendahan hati adalah ciri utama orang beriman. Dalam sebuah hadis disebutkan:

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.”

Hadis ini menunjukkan betapa beratnya dosa kesombongan, baik itu kesombongan hati maupun kesombongan intelektual.

Merasa paling benar membuat seseorang menutup pintu nasihat. Padahal agama sangat menekankan pentingnya tawaṣī bil-ḥaqq—saling menasihati dalam kebenaran. Orang yang merasa dirinya paling sempurna tidak akan mau menerima nasihat, padahal nasihat adalah kebutuhan setiap manusia, tanpa kecuali.

Dalam Islam, ilmu itu milik Allah, bukan milik manusia. Maka siapa pun yang merasa paling pintar sesungguhnya telah lupa bahwa ilmu yang dimilikinya hanyalah sedikit. Allah berfirman:

﴿وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا﴾
“Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra: 85)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak sepatutnya bersikap sombong dengan ilmu. Sikap merendah justru menjadi bentuk syukur atas nikmat pengetahuan yang Allah titipkan.

Sifat merasa paling benar juga dapat merusak hubungan sosial. Orang yang demikian cenderung meremehkan pendapat orang lain, tidak mau berdiskusi, dan mudah menyalahkan. Sikap ini bertentangan dengan akhlak Nabi Muhammad SAW yang dikenal sangat lembut, menghargai pendapat, dan sering bermusyawarah bahkan dengan sahabat yang lebih muda.

Para ulama menegaskan bahwa ilmu yang tidak disertai tawadhu’ (rendah hati) adalah ilmu yang tidak membawa manfaat. Orang yang rendah hati akan terus belajar, memperbaiki diri, dan mencari kebenaran dengan lapang dada. Sedangkan orang yang sombong merasa dirinya sudah cukup, sehingga berhenti berkembang dan akhirnya terjebak dalam kesalahan yang sama.

Karena itu, agama memerintahkan kita untuk selalu rendah hati, mau belajar, dan membuka diri terhadap nasihat serta kebenaran. Mengakui bahwa kita tidak selalu benar bukanlah kelemahan, tetapi tanda kematangan iman. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hati ia terhadap Allah dan semakin santun kepada sesama.

Leave a Response