Oleh Ridhazia
Blunder — asal usulnya dari bahasa Norse Kuno blundra yang berarti “menutup mata — lantas diterjemahkan pula sebagai kesalahan, kebodohan yang memalukan.
Blunder dalam bahasa Inggris kerap diserupakan dengan kata-kata mistake, error, fallacy, confusion, oversight. Artinya kekeliruan yang disengaja.
Dalam KBBI blunder itu kesalahan serius akibat kebodohan, kecerobohan, atau kelalaian. Bahkan sebagai penyimpangan dari apa yang benar, tepat, atau pantas.
Paling Benar!
Dalam sejumlah penjelasan dari pakar bahasa blunder biasa terjadi dunia olahraga, potensial terjadi dalam berpolitik.
Hal ini dibuktikan melalui riset psikologi. Dalam penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Experimental Psychology oleh Robert Wyer Jr. dan John J. Skowronski, blunder cenderung terjadi karena ketokohan dan pengaruh yang besar. Juga cenderung ada perasaan ingin menjadi paling benar.
Blunder yang terjadi demikian hanya bisa terjadi karena sang tokoh kerap terjebak dalam angan-angan yang ide dan gagasannya berbanding terbalik dengan kenyataan.
Hal ini dikonfirmasi melalui penelitian yang dipublikasikan dalam buku Mistakes Were Made (But Not by Me) oleh Carol Tavris dan Elliot Aronson, kalau blunder dapat terjadi karena adanya kesenjangan antara apa yang seharusnya dilakukan dan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun keputusan politik yang blunder juga menyisakan sisi baik dan positif.
Riset oleh Sarah Lewis dalam bukunya The Rise: Creativity, the Gift of Failure, and the Search for Mastery, blunder sering kali merupakan momen di mana inovasi dan pembelajaran terbesar dapat lahir.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





