Kolom Sosial Politik

Anas: Kabar Gaza yang Hilang

311views

Anas: Kabar Gaza yang Hilang

Oleh: Budi Setiawan

NAMA Asqalan tiba-tiba mengendap dalam ingatan saya. Sepekan terakhir, tiap kali menyaksikan penderitaan warga Gaza, nama itu muncul kembali. Awal pekan ini, gema itu menemukan jawabannya—lewat “pesan terakhir” Anas al-Sharif, jurnalis muda Palestina yang gugur dihantam rudal Israel Defense Forces (IDF). “Jangan lupakan Gaza… dan jangan lupakan aku,” tulisnya pada 6 April 2025.

Anas, 28 tahun, adalah koresponden Al Jazeera yang sejak awal perang 2023 tak lelah melaporkan penderitaan rakyatnya. Ia lahir di kamp pengungsi Jabalia, memimpikan pulang ke tanah leluhurnya di Asqalan. Harapan itu pupus ketika serangan udara Israel pada 10 Agustus 2025 lalu menewaskannya bersama empat kolega Al Jazeera—Mohammed Qreiqeh, Ibrahim Zaher, Mohammed Noufal, Moamen Aliwa—serta dua jurnalis lokal lain, termasuk Mohammed al-Khaldi.

Committee to Protect Journalists (CPJ) mencatat sejak Oktober 2023, lebih dari 150 jurnalis dan pekerja media tewas di Gaza, mayoritas warga Palestina. Serangan yang menargetkan tenda wartawan, seperti yang menimpa Anas, memicu kecaman PBB, Qatar, dan organisasi kebebasan pers.

Israel menuding Anas sebagai “kepala sel teroris Hamas”, tanpa bukti yang meyakinkan. Anas membantahnya, dan Al Jazeera serta kelompok advokasi media menolak tuduhan itu. CEO CPJ, Jodie Ginsberg, menegaskan: hukum internasional hanya mengizinkan penyerangan terhadap kombatan aktif—bukan jurnalis, meski pernah bekerja di media terkait pihak bersenjata.

Namun, dunia tampak berjalan seperti biasa. Kepergian para jurnalis Gaza jarang menjadi tajuk utama media besar. Penderitaan mereka kerap dibungkus narasi politis yang mengaburkan fakta kemanusiaan. Kata “genosida” nyaris tabu diucapkan untuk Gaza, meski pola pembunuhan massal oleh Israel terhadap penduduk sipil terjadi terus-menerus.

Di tengah blokade informasi dan ancaman maut, jurnalis Gaza menjadi saksi terakhir. Mereka merekam kehancuran rumah, jeritan ibu kehilangan anak, dan wajah-wajah yang berharap dunia akan peduli. Saat mereka gugur, bukan hanya nyawa yang hilang, tetapi juga narasi yang tak sempat tersampaikan.

Pesan terakhir Anas adalah seruan agar Gaza tidak dilupakan. Namun dunia yang ia titipkan pesan itu tampaknya lebih sibuk memperdebatkan politik daripada menyelamatkan nyawa.

Kematian Anas al-Sharif bukan sekadar kehilangan bagi dunia jurnalistik, tetapi juga bagi sejarah yang sedang ditulis di Gaza. Setiap jurnalis yang gugur, membawa serta satu lembar sejarah yang terkubur di bawah puing-puing yang dibiarkan membisu.*

* Budi Setiawan adalah pemerhati sosial politik, mantan jurnalis senior ibukota, alumnus FISIP Unpad Bandung. Jawa Barat.

Leave a Response