
Oleh: Dr. Dasim Budimansyah
ADA pertanyaan yang mungkin akan semakin sering menghantui manusia: ketika mesin semakin cerdas, apakah manusia masih akan menjadi semakin manusiawi?
Pertanyaan itu muncul kembali ketika saya mengikuti The 11th International Conference on Global Citizenship Education di Seoul, Republik Korea, Rabu, 26 Agustus 2026. Dalam konferensi itu, Prof. Kai-ming Cheng, Emeritus Professor dari University of Hong Kong, menyampaikan keynote speech bertajuk “AI in Education in Turbulent Times: Can It Be Positive?”
Alih-alih mengajak peserta terkagum-kagum pada kecanggihan Artificial Intelligence (AI), Cheng justru membawa persoalan ke wilayah yang lebih mendasar: siapa yang sesungguhnya memegang kendali—manusia atau mesin?
Pertanyaan itu menyentuh satu konsep penting: human agency. Dalam pendidikan, istilahnya student agency: kemampuan peserta didik untuk berpikir, memilih, mengambil keputusan, bertindak, dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Di sinilah persoalan AI menjadi jauh lebih serius daripada sekadar soal teknologi.
Ketika Sekolah Terlalu Banyak Mengatur
Ada sesuatu yang ironis dalam pendidikan modern. Kita meminta anak-anak kreatif, kritis, inovatif, dan mandiri. Namun pada saat yang sama, hampir seluruh kehidupan mereka di sekolah telah diatur.
Jadwal ditentukan. Mata pelajaran ditentukan. Buku ditentukan. Tugas ditentukan. Batas waktu ditentukan. Bahkan sering kali jawaban yang dianggap benar pun sudah tersedia.
Lalu kita meminta mereka berpikir bebas.
Bukankah ada yang keliru?
Cheng mengingatkan bahwa pendidikan modern masih membawa warisan pendidikan massal era industri: terstruktur, seragam, teoritis, dan dikendalikan dari atas. Anak-anak terlalu sering ditempatkan sebagai penerima pengetahuan, bukan sebagai subjek yang membangun pengetahuan.
Akibatnya, kesempatan mereka untuk memilih, mencoba, gagal, bertanya, menemukan makna, dan mengambil keputusan menjadi semakin sempit.
Padahal dunia yang akan mereka masuki tidak bekerja seperti ruang ujian.
Krisis iklim tidak menyediakan empat pilihan jawaban. Kemiskinan tidak dapat diselesaikan dengan menghafal definisi. Konflik sosial tidak tunduk pada kunci jawaban. Disinformasi, migrasi, intoleransi, perang, dan perubahan teknologi datang sebagai persoalan yang rumit, saling berkaitan, dan sering kali tanpa jawaban tunggal.
Generasi mendatang membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menjawab.
Mereka membutuhkan keberanian menentukan sikap.
Mereka membutuhkan agency.
Lalu AI Datang
Di tengah sistem pendidikan yang masih sangat mengatur itu, AI datang dengan kecepatan yang nyaris tidak memberi kesempatan untuk bersiap.
Reaksi kita mudah ditebak. Sekolah sibuk memikirkan cara mencegah siswa menggunakan AI. Universitas mencari cara mendeteksi tulisan yang dibuat mesin. Orang tua khawatir anak-anak menjadi malas berpikir.
Kekhawatiran itu masuk akal.
Tetapi barangkali pertanyaannya terlalu sempit.
Persoalan terpenting bukan apakah siswa menggunakan AI. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: setelah menggunakan AI, apakah siswa menjadi lebih kuat sebagai manusia atau justru semakin kehilangan kemampuan untuk berpikir sendiri?
Di situlah letak persoalannya.
AI menjadi berbahaya bukan semata-mata karena ia semakin pintar. Ia menjadi berbahaya ketika manusia menyerahkan kepadanya pekerjaan-pekerjaan yang seharusnya membentuk dirinya.
Mesin menjawab, manusia menyalin.
Mesin berpikir, manusia menerima.
Mesin memilih, manusia mengikuti.
Jika pola itu menjadi kebiasaan, kita mungkin akan memiliki generasi yang sangat mahir menggunakan teknologi, tetapi gagap menentukan arah kehidupannya sendiri.
Ironisnya, manusia mungkin menjadi semakin canggih sekaligus semakin tidak berdaya.
Namun AI tidak harus berakhir demikian.
Teknologi itu juga dapat membuka ruang belajar yang jauh lebih luas. Siswa dapat membuat visualisasi, menyusun concept map, melakukan simulasi, mengeksplorasi pengetahuan di luar kurikulum, membandingkan perspektif, dan mengembangkan gagasan menjadi karya.
Maka persoalannya bukan AI.
Persoalannya adalah siapa menjadi tuan dan siapa menjadi alat.
Jangan Melarang, Ajarkan Mengendalikan
Karena itu, larangan total terhadap AI bukan jawaban yang memadai.
Generasi muda sekarang hidup dalam zaman AI. Mereka akan memasuki dunia kerja, masyarakat, dan ruang publik yang semakin dipenuhi algoritma. Menutup mata terhadap teknologi hanya akan membuat pendidikan tertinggal dari kenyataan.
Yang dibutuhkan bukan generasi yang takut menggunakan AI, melainkan generasi yang mampu menggunakannya dengan kesadaran etis.
Kita pernah menghadapi persoalan serupa ketika internet berkembang. Perdebatan kita sering berhenti pada pertanyaan apakah internet baik atau buruk. Padahal pisau yang sama dapat digunakan untuk melukai atau menyelamatkan. Internet dapat menyebarkan kebencian, tetapi juga dapat menghubungkan manusia dengan pengetahuan.
AI pun demikian.
Teknologi tidak memiliki kompas moral.
Manusialah yang harus memilikinya.
Di sinilah pendidikan memperoleh pekerjaan yang jauh lebih berat. Ia bukan hanya mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga untuk apa teknologi digunakan.
Dari Mengerjakan Tugas ke Menolong Sesama
Ada bagian dari paparan Cheng yang menurut saya jauh lebih penting daripada kemampuan AI menghasilkan teks atau gambar.
Ia memperlihatkan bagaimana siswa menggunakan teknologi untuk menjawab persoalan kehidupan nyata.
Ada siswa yang membuat buku anak mengenai cyber security. Ada pula yang mengembangkan platform bagi orang lanjut usia yang hidup sendirian agar tetap terhubung dengan keluarganya.
Perubahan kecil itu sesungguhnya revolusioner.
Anak-anak tersebut tidak lagi sekadar menjadi students who complete assignments. Mereka bergerak menjadi citizens who identify problems and create solutions.
Di situlah pendidikan menemukan kembali alasan keberadaannya.
Ukuran keberhasilan pendidikan semestinya tidak berhenti pada berapa halaman yang telah dibaca, berapa soal yang dapat dijawab, atau berapa tinggi nilai ujian.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: persoalan apa yang dapat diselesaikan setelah seseorang belajar? Siapa yang kehidupannya menjadi lebih baik karena pengetahuan yang dimilikinya?
Ketika pertanyaan itu masuk ke ruang kelas, pendidikan karakter, kewarganegaraan, ilmu pengetahuan, dan teknologi tidak lagi berjalan sendiri-sendiri.
Semuanya bertemu dalam tindakan.
AI Tidak Punya Hati
Ada satu ungkapan dari paparan Cheng yang terus terngiang: “AI has no heart, but care.”
AI tidak memiliki hati seperti manusia. Ia tidak merasakan kasih sayang. Ia tidak mengenal belas kasih. Ia tidak memiliki nurani. Ia tidak merasa bersalah ketika membuat kesalahan.
Tetapi manusia yang memiliki hati dapat menggunakan AI untuk merawat manusia lain.
Di situlah batas yang harus dijaga.
Kecerdasan boleh dibantu mesin. Kebijaksanaan tidak.
Informasi dapat diberikan algoritma. Nurani tidak dapat diunduh.
Kecepatan dapat diberikan teknologi. Arah perjalanan tetap harus ditentukan manusia.
Karena itu, perdebatan tentang AI pada akhirnya bukan hanya perdebatan teknologi. Ia adalah perdebatan tentang karakter, etika, pendidikan, dan masa depan kehidupan bersama.
Kembalikan Belajar kepada Anak
Pada penghujung keynote, Cheng menyampaikan tiga seruan yang menurut saya patut direnungkan para guru, dosen, orang tua, pembuat kebijakan, dan pemimpin pendidikan:
Return Learning to Students.
Return Students to Society.
Return Students to the World.
Kembalikan belajar kepada anak.
Berikan mereka ruang untuk bertanya, memilih, mencoba, gagal, dan bangkit. Jangan jadikan seluruh pengalaman belajar sebagai agenda orang dewasa.
Kembalikan anak kepada masyarakat.
Jangan kurung pendidikan di balik pagar sekolah. Bawa mereka melihat pasar, kampung, sungai, desa, kota, dunia kerja, lingkungan hidup, kelompok rentan, dan berbagai persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat.
Lalu kembalikan anak kepada dunia.
Biarkan mereka memahami bahwa hidupnya terhubung dengan manusia lain yang berbeda bangsa, bahasa, agama, kebudayaan, dan pengalaman.
Di sanalah Global Citizenship Education memperoleh maknanya.
Indonesia Membutuhkan Generasi yang Memiliki Agency
Pesan tersebut terasa penting bagi Indonesia.
Kita tidak cukup membutuhkan generasi yang pandai mengikuti instruksi. Kita membutuhkan manusia yang mampu mengatakan: saya dapat berpikir; saya dapat memilih; saya memahami akibat pilihan saya; saya dapat bekerja bersama orang lain; dan saya bersedia menggunakan kemampuan saya untuk sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri.
Itulah agency.
Gagasan tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang asing dalam tradisi pendidikan Indonesia. Pendidikan yang memerdekakan bukan berarti membiarkan anak berjalan tanpa arah. Pendidikan yang memerdekakan justru membantu manusia menemukan kekuatan dari dalam dirinya agar mampu berdiri sebagai pribadi yang merdeka sekaligus bertanggung jawab.
Di era AI, gagasan itu menjadi semakin penting.
Peran guru tidak hilang. Justru semakin penting.
Guru mungkin tidak lagi menjadi satu-satunya sumber jawaban. Tetapi guru harus menjadi orang yang membantu siswa menemukan pertanyaan yang tepat.
Guru bukan sekadar pengendali pembelajaran, melainkan pengembang agency.
Bukan hanya penjaga kurikulum, tetapi juga pembimbing nurani.
Dari Student Agency ke Global Citizenship
Cheng menyebut Global Citizenship Education bukan lagi sekadar ideal. Dalam dunia yang penuh turbulensi, ia telah menjadi kebutuhan.
Tetapi pendidikan kewargaan global membutuhkan student agency.
Tidak cukup mengajarkan perdamaian jika siswa tidak pernah diberi kesempatan menyelesaikan konflik.
Tidak cukup berbicara tentang keberagaman jika mereka tidak pernah berdialog dengan orang yang berbeda.
Tidak cukup mengajarkan keberlanjutan lingkungan jika pembelajaran berhenti pada definisi.
Dan tidak cukup berbicara tentang kewarganegaraan jika siswa hanya diminta duduk, diam, mencatat, lalu mengikuti.
Peserta didik harus diberi kesempatan menjadi warga.
Mereka harus belajar mengidentifikasi persoalan, mengambil keputusan, bekerja bersama, menciptakan solusi, dan melihat konsekuensi tindakannya.
Perjalanan itu dapat diringkas sebagai:
learning agency → personal agency → social agency → civic agency → global citizenship agency.
Barangkali di situlah arah pendidikan masa depan.
Jangan Biarkan Manusia Kehilangan Arah
AI akan terus berkembang. Ia akan menulis lebih cepat, menghitung lebih tepat, menerjemahkan lebih baik, dan mengolah informasi dalam skala yang tidak mungkin dilakukan manusia sendirian.
Kita tidak perlu takut pada kecerdasan mesin.
Yang patut ditakuti adalah ketika kecerdasan mesin tumbuh jauh lebih cepat daripada keberanian manusia untuk berpikir.
Ketika mesin semakin mampu memberikan jawaban, pendidikan harus semakin serius mengajarkan manusia mengajukan pertanyaan.
Ketika mesin semakin mampu melakukan pekerjaan, pendidikan harus semakin kuat membantu manusia menemukan tujuan.
Ketika mesin semakin cerdas, pendidikan harus semakin sungguh-sungguh membangun karakter.
Dan ketika dunia semakin terbelah oleh konflik, identitas, kepentingan, serta ketidakpercayaan, pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu melihat dirinya bukan hanya sebagai bagian dari kelompoknya, tetapi sebagai bagian dari kemanusiaan.
AI mungkin dapat memperbesar kecerdasan manusia.
Tetapi pendidikanlah yang menentukan untuk apa kecerdasan itu digunakan.
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting di zaman AI bukanlah seberapa cerdas mesin akan menjadi.
Pertanyaan yang lebih menentukan adalah:
Manusia seperti apakah yang ingin kita bentuk ketika mesin sudah jauh lebih cerdas?
AI memang tidak mempunyai hati.
Justru karena itulah, jangan sampai manusia kehilangan hatinya.***





