Satu GPMB – Aneka Cita Rasa di Daerah : Tantangan Membangun Jaringan Gerakan Literasi Antar Daerah

Oleh : M Kh Rachman Ridhatullah Ketua 1 Pengurus Pusat GPMB 2023-2027 (Gerakan Pembudayaan Minat Baca)
Ada satu pertanyaan sederhana tetapi penting bagi Gerakan Pembudayaan Minat Baca (GPMB) di berbagai daerah : sebenarnya kita sedang membangun cabang organisasi literasi atau sedang membangun gerakan literasi di daerah ? Pertanyaan ini jangan dianggap sepele. Sebab, banyak organisasi sosial terlihat ramai di awal : kepengurusan dibentuk, surat keputusan diterbitkan, pelantikan digelar, foto bersama bertebaran di media sosial. Setelah itu? Perlahan sunyi. Rapat berkurang, program tidak jelas, aktivitasnya berjalan sendiri-sendiri, dan organisasi akhirnya lebih sibuk mengurus struktur organisasi daripada mengurus perubahan nyata di masyarakat.
GPMB jangan sampai terjebak di situ. Daerah membutuhkan GPMB yang hidup, bukan sekadar memiliki cabang kepengurusan perwakilan dari pusat. Yang dibutuhkan bukan sebanyak-banyaknya cabang GPMB dengan kelengkapan ketua, sekretaris, bendahara dan posisi lainnya, tetapi sebanyak-banyaknya penggerak literasi yang benar-benar mampu bekerja di masyarakat.
Ini penting karena persoalan literasi di daerah tidak sederhana. Wilayahnya luas, karakter masyarakatnya beragam, kondisi geografisnya berbeda, dan kebutuhan setiap daerah tidak sama. Ada kawasan perkotaan dengan akses informasi yang relatif baik, tetapi ada pula wilayah pesisir, kepulauan, pegunungan, dan pedesaan yang menghadapi persoalan akses, fasilitas, bahkan keterbatasan sumber daya manusia. Oleh karena itu, membangun jaringan GPMB di daerah tidak bisa menggunakan pendekatan “satu resep untuk semua”.
Nilai dan semangat gerakannya boleh sama, tetapi programnya harus mampu berbicara dengan kebutuhan lokal. GPMB di Maros tentu tidak harus sama dengan GPMB di Mamuju, Manado, Palu, Kendari, atau Gorontalo. Justru kekuatan GPMB akan muncul ketika setiap daerah memiliki kekhasan program, tetapi tetap terhubung dalam satu gerakan besar.
Di sinilah cara berpikir kita perlu diubah. Jangan mulai dengan pertanyaan, “Siapa yang mau menjadi pengurus?” Mulailah dengan pertanyaan, “Siapa yang selama ini sudah bergerak?” Cari guru yang menghidupkan taman baca. Temui komunitas anak muda yang membuat konten edukatif. Dekati pegiat perpustakaan, penulis, akademisi, pesantren, organisasi perempuan, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, jurnalis, hingga pelaku usaha yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan.
Mereka adalah aset yang sebenarnya. GPMB tinggal menghubungkan mereka. Dengan kata lain, GPMB tidak perlu selalu tampil sebagai pemain utama. GPMB justru harus berani menjadi orkestrator gerakan litrasi. Menghubungkan pemerintah, kampus, sekolah, komunitas, dunia usaha, media, dan masyarakat. Sebab, persoalan literasi kita sering kali bukan karena tidak ada yang bekerja. Banyak pihak sudah bekerja. Masalahnya, mereka bekerja sendiri-sendiri. Ada pemerintah dengan berbagai program literasinya. Ada sekolah dengan kegiatan literasinya juga. Ada komunitas dengan model gerakannya sendiri. Ada perusahaan dengan bentuk CSR literasinya. Ada kampus dengan hasil beragam risetnya. Ada media dengan kanal komunikasi literasinya. Tetapi siapa yang menghubungkan semuanya?
Di sinilah GPMB di daerah seharusnya mengambil posisi lebih strategis. Bukan menjadi organisasi yang paling sibuk, tetapi menjadi organisasi yang paling mampu menghubungkan. Karena itu, jaringan GPMB di berbagai daerah perlu dibangun sebagai ekosistem. Dimulai dari jejaring di pusat, provinsi, kemudian kabupaten/kota, lalu komunitas. Tidak perlu semuanya dipaksa tumbuh seragam. Biarkan berkembang sesuai kapasitas lokal. Yang penting satu hal : ada simpul yang aktif.
Setiap simpul nantinya harus bisa memiliki program unggulan. Satu kabupaten bisa mengembangkan literasi keluarga. Daerah pesisir mengembangkan literasi maritim. Daerah wisata mengembangkan literasi budaya dan pariwisata. Kawasan perkotaan bisa fokus pada literasi digital dan content creation. Daerah pedesaan dapat mengembangkan literasi berbasis komunitas dan ekonomi lokal. Dengan begitu, GPMB tidak identik hanya dengan kegiatan membaca buku.
Literasi harus diperluas menjadi kemampuan masyarakat untuk memahami kehidupan dan mengambil keputusan yang lebih baik : literasi digital, finansial, budaya, keluarga, kewargaan, ekonomi, lingkungan, hingga literasi kesehatan. Ini juga akan membuat organisasi GPMB di daerah lebih mudah masuk ke dalam agenda pembangunan daerah.
Pemerintah daerah tentu tidak hanya membutuhkan organisasi yang mengajak masyarakat membaca. Pemerintah membutuhkan mitra yang mampu membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Maka bahasa GPMB juga harus berubah. Jangan hanya berbicara tentang “minat baca”. Namun, bicara juga tentang pembangunan manusia, kualitas pendidikan, ketahanan keluarga, ekonomi kreatif, pemberdayaan masyarakat, transformasi digital, pelestarian budaya, dan daya saing daerah.
Dengan bahasa itu, posisi GPMB akan naik kelas : dari organisasi sosial literasi menjadi strategic partner pembangunan daerah. Namun ada satu pekerjaan rumah yang tidak kalah penting : keberlanjutan. Jangan sampai GPMB ramai ketika ada pelantikan, lalu sepi ketika tidak ada anggaran. Jangan pula seluruh aktivitas bergantung pada APBD. Organisasi gerakan harus memiliki kemampuan membangun kemitraan dengan BUMN, BUMD, perusahaan swasta, filantropi, kampus, media, dan berbagai pihak lainnya. Dan yang tidak kalah penting : ukur dampaknya.
Berapa komunitas yang aktif? Berapa anak yang mendapatkan manfaat? Berapa relawan yang terlibat? Berapa mitra yang bergabung? Apa perubahan yang terjadi? GPMB masa depan harus mulai meninggalkan budaya “yang penting ada kegiatan”. Ukuran keberhasilan bukan banyaknya seminar, spanduk, sertifikat, atau foto kegiatan.
Setiap daearh membutuhkan gerakan literasi yang tidak hanya pandai membuat acara, tetapi mampu membangun ekosistem. Tidak hanya pandai membentuk struktur, tetapi mampu menghidupkan jaringan. Tidak hanya pandai berbicara tentang literasi, tetapi mampu membuat literasi terasa manfaatnya dalam kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, jika GPMB ingin tumbuh kuat di berbagai daerah, rumusnya sebenarnya sederhana : Connect – Activate – Collaborate – Scale – Measure. Hubungkan para penggerak. Hidupkan komunitas. Bangun kolaborasi. Perluas dampak. Lalu ukur hasilnya secara nyata.
Jangan berlomba menjadi organisasi yang paling banyak pengurusnya. Berlombalah menjadi gerakan yang paling banyak menghidupkan masyarakatnya. Sebab pada akhirnya, eksistnsi organisasi GPMB sejatinya bukan tentang berapa banyak struktur yang berhasil dibentuk di berbagai daerah. Eksistensi GPMB adalah tentang berapa banyak aspek kebermafaatan dalam kehidupan nyata yang berhasil digerakkan melalui literasi. **





