
(Oleh: Soejitno Irmim).
Pemimpin juga harus berani mengambil risiko yang terukur. Setiap perubahan pasti memiliki risiko. Yang penting, risiko tersebut dipelajari, diperhitungkan, dan dipersiapkan mitigasinya. Pemimpin bukan orang yang menghindari semua risiko, tetapi orang yang mampu mengelola risiko demi tujuan yang lebih besar.
SALAH satu modal penting yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah keberanian. Pemimpin tanpa keberanian akan sulit membawa perubahan, karena kepemimpinan selalu berhadapan dengan pilihan, risiko, tekanan, bahkan kemungkinan mendapat penolakan. Namun, keberanian seorang pemimpin bukanlah keberanian yang nekat, emosional, atau sekadar ingin terlihat kuat. Keberanian harus dilandasi iman, akal sehat, integritas, dan tanggung jawab.
Pemimpin harus berani mengambil keputusan yang adil, sekalipun keputusan tersebut tidak menyenangkan semua pihak. Keadilan tidak boleh dikalahkan oleh kedekatan, kepentingan pribadi, tekanan kelompok, maupun popularitas.
Pemimpin juga harus berani mengambil risiko yang terukur. Setiap perubahan pasti memiliki risiko. Yang penting, risiko tersebut dipelajari, diperhitungkan, dan dipersiapkan mitigasinya. Pemimpin bukan orang yang menghindari semua risiko, tetapi orang yang mampu mengelola risiko demi tujuan yang lebih besar.
Keberanian berikutnya adalah berani memberantas perilaku koruptif. Korupsi, kolusi, manipulasi, penyalahgunaan wewenang, dan berbagai bentuk ketidakjujuran tidak boleh dibiarkan hanya karena dilakukan oleh orang dekat atau orang yang memiliki kekuasaan.
Pemimpin juga harus berani mengubah cara lama yang cenderung zalim, terutama jika sistem tersebut merugikan rakyat, bawahan, atau kelompok yang lemah. Tradisi dan kebiasaan tidak selalu benar hanya karena sudah berlangsung lama.
Lebih dari itu, pemimpin harus berani membuat perubahan menuju perbaikan. Ia tidak boleh terjebak dalam zona nyaman. Ia harus berani mencoba cara baru, melakukan inovasi, dan memperbaiki kesalahan masa lalu.
Keberanian juga berarti tegas memegang prinsip, tetapi sekaligus berani menerima kritik dan saran. Tegas bukan berarti keras kepala. Pemimpin yang matang mampu membedakan antara kritik yang membangun dan tekanan yang bertujuan melemahkan.
Bahkan, ada keberanian yang lebih tinggi, yaitu berani mundur apabila gagal menjalankan amanah kepemimpinan. Mundur bukan selalu berarti kalah. Dalam kondisi tertentu, mundur justru merupakan bentuk tanggung jawab dan kehormatan.
Pada akhirnya, keberanian seorang pemimpin harus diarahkan untuk amar makruf nahi mungkar: berani mengajak kepada kebaikan dan berani mencegah kemungkaran. Sebab, pemimpin sejati bukanlah orang yang berani menggunakan kekuasaan untuk dirinya sendiri, melainkan orang yang berani menggunakan kekuasaan untuk menegakkan kebenaran, keadilan, kemaslahatan, dan amanah. ** Penulis Penggiat Literasi dari Malang Jawa Timur
Editor : Rianto Muradi





