Pionir Literasi Musik Indonesia: Gaya Edutainment Ferry Curtis Sukses Hidupkan Kampanye Membaca


KOTA BANDUNG, Bandungpos.id — Kampanye literasi tidak selalu harus berlangsung kaku dan membosankan. Musisi balada sekaligus Duta Literasi Musik Indonesia, Ferry Curtis, membuktikannya lewat pendekatan edutainment (edukasi berbasis hiburan) yang sukses memukau ratusan peserta dalam acara kampanye membaca baru-baru ini. Keterlibatan musisi kawakan ini menjadi angin segar bagi gerakan literasi tanah air, di mana Perpustakaan Nasional RI (Perpusnas) dinilai sangat beruntung bisa menggandeng figur sekelas Ferry Curtis untuk bersama-sama mendongkrak minat baca masyarakat di tingkat nasional.
Ferry Curtis bukan nama baru dalam gerakan ini. Ia merupakan pelopor dan pionir utama dalam menyampaikan pesan-pesan literasi melalui media musik di Indonesia. Dengan pengalaman matang selama lebih dari 25 tahun, dedikasinya dalam mengawinkan nada dan buku telah menjadi inspirasi besar bagi dunia pendidikan dan seni tanah air.Jejak kontribusi monumentalnya bersama Perpusnas telah terukir sejak tahun 2019, saat ia menciptakan lima lagu literasi bertajuk “Jangan Berhenti Membaca”. Puncaknya, ia kembali dipercaya oleh Perpusnas untuk menciptakan lagu “Mars Perpustakaan” resmi yang dirilis guna membawa semangat kebaruan literasi. Kini, karya-karya ikonik miliknya telah disebarluaskan dan dinyanyikan secara masif di seluruh jaringan perpustakaan di Indonesia.
Karakternya sebagai seniman dan penulis lagu yang piawai serta khas tidak tumbuh begitu saja. Saat menempuh studi di jurusan Teater, Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI Bandung), Ferry berguru langsung kepada sastrawan besar Indonesia, Prof. Saini KM. Sentuhan pendidikan teater dan bimbingan sang maestro sastra inilah yang membentuk ketajaman Ferry dalam menyusun lirik serta membangun penjiwaan panggung yang luar biasa.
Dalam setiap penampilannya, Ferry memadukan pesan pentingnya membaca dengan alunan musik balada yang interaktif. Menggunakan petikan gitar akustik yang khas, musisi asal Bandung ini mengajak seluruh peserta bernyanyi bersama lewat lagu-lagu bertema literasi ciptaannya.
Penampilannya yang akrab dan familier di atas panggung langsung mencairkan suasana. Kedekatan ini lahir dari ketulusan pengalaman hidupnya sendiri yang berubah drastis berkat kebiasaan membaca buku. Baginya, buku adalah pemantik jalan hidup dan kreativitasnya sebagai seniman.
Jika dibaca lebih jeli, kekuatan utama karya Ferry justru terletak pada kedalaman liriknya. Lagu-lagu yang ia bawakan tidak pernah kosong; di dalamnya selalu tersirat pesan motivasi yang kuat, spirit literasi, serta rasa nasionalisme kebangsaan yang tinggi. Tidak hanya itu, ia juga konsisten menyisipkan nilai-nilai kebersamaan, ajakan untuk saling berbagi kebaikan, hingga muatan spiritualitas ketuhanan yang menyentuh hati pendengar.
Jam terbang Ferry di dunia pertunjukan pun tergambar lewat rekam jejaknya yang luar biasa. Sejak memulai debut panggung mandirinya pada tahun 1998, Ferry tercatat telah sukses menggelar hingga 36 kali konser tunggal. Konsistensi dan pengalaman panjang selama hampir tiga dekade tersebut membuatnya sangat piawai menguasai panggung, sehingga mampu membuat peserta dari berbagai kalangan betah dan bahagia hingga akhir acara.”Literasi harus disampaikan dengan hati dan kegembiraan. Melalui musik, pesan tentang pentingnya membaca bisa masuk ke dalam pikiran tanpa terasa seperti dipaksa,” ujar Ferry di sela-sela acara.
Kolaborasi kreatif antara edukasi dan seni pertunjukan seperti ini diharapkan bisa terus diadopsi oleh berbagai instansi pendidikan maupun perpustakaan daerah. Pendekatan edutainment dari sang pionir bersama Perpustakaan Nasional ini membuktikan bahwa mendongkrak minat baca masyarakat dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan sekaligus modern.**(RM/BNN)





