Oleh Ridhazia
Aksiden telah berlalu. Secara berangsur saya segera pulih akan kembali seperti sediakala. Tidak lagi berselonjoran di kasur perawatan dokter dengan kabel infus, obat dan vitamin.
Terimakasih atensi dan doa, kawan-kawanku. Juga terima kasih atas pesan-pesan cintanya.
Saya didenda!
Sejumlah atensi menyebut saya didenda Allah SWT. Dan, musibah sebagai kafarat. Sekaligus menjadi jalan menembus dan menghapuskan setiap kesalahan.
Atensi lain kalau musibah sebagai pesan Allah untuk memosisikan pada derajat lebih tinggi.
Katanya, Rasulullah SAW pun pernah bersabda ‘Barangsiapa yang diinginkan oleh Allah kebaikan dalam dirinya. Yusibaminhu, maka Allah akan hadirkan musibah kepadanya agar dikuatkan dalam kehidupan’.
Pesan Imam Syafii
Ada lagi atensi yang mengutip Imam Syafii ketika ditanya ‘Mana yang kau pilih, antara dikuatkan atau diberi ujian?
Sang Imam menjawab, ‘Aku memilih diberikan ujian. Seseorang itu tidak mungkin akan dikuatkan sebelum dia diberikan ujian.
Pembelajaran
Setiap musibah adalah proses pembelajaran, kata Julia Child (1912-2004) penulis asal Amerika Serikat.
Sedangkan menurut paparan psikiater Elisabeth Kubler-Ross (1926-2004) seseorang yang mengalami musibah berproses melalui tahapan yang kontinum.
Pertama, penolakan (denial). Tahap ini meliputi kegalauan, ketidakpercayaan atau penyangkalan akan kenyataan yang terjadi.
Tahap penyangkalan biasanya mengatakan “Ini tidak mungkin terjadi”, “Ini pasti mimpi buruk”
Kedua, kemarahan (ager).Tahap ini tahap mengekspresikan emosi yang tertahan. Ada rasa kesal, bahkan benci pada diri sendiri. Mungkin pada orang lain di sekitarnya. Bahkan pada Tuhan.
Pada tahap kemarahan pikiran diselimuti protes. Dari pertanyaan “Mengapa ini harus terjadi padaku?”, “Siapa yang harus kubersalahkan?”, atau “Tuhan tidak adil”.
Ketiga, tawar-menawar (bargaining).Tahap ini mulai menyadari dan mencari jalan keluar dari situasi yang sulit. Menumpahkan harapan atau dan mengubah kenyataan.
Ekspresinya pada tahap ini lebih positif. Kalimatnya tidak lagi bertanya tapi dalam bentuk pernyataan: “Aku akan menjadi orang yang lebih baik jika ini bisa dibatalkan”, atau “Aku akan berdoa lebih rajin jika ini bisa diubah”.
Keempat, tahap penerimaan (acceptance).Sekalipun masih tetap dalam bayang-bayang depresi (depression) tahap ini cenderung menjadi kesadaran dan pengakuan akan kenyataan yang terjadi.
Berpikir pun lebih positif lagi. “Ini memang sudah takdir”, “Ini adalah bagian dari rencana Tuhan”, atau “Aku harus melanjutkan hidupku”. *
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Kota Bandung, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Vila Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.





