Kolom Sosial Politik

Ada Gula Ada Mafia

317views

 

Oleh : Ridhazia

Spekulasi yang berkembang Tom Lembong dipidana sebagai korban mafia dan kartel gula. Selain persengkongkolan politik pasca Pilpres 2024 lalu.

Sebab katanya, kasus importasi gula di Indonesia itu — jika dikonstruksi dalam rentang waktu 2015-2023 — sudah program tahunan. Sedikitnya lima kali menteri perdagangan berganti yang mengurus gula.

Thomas Lembong menjadi Menteri Perdagangan (2015-2016) lalu digantikan Enggartiasto Lukita (2016-2019), Agus Suparmanto (2019-2020), Muhammad Lutfi (2020-2022) hingga Zulkifli Hasan (2022-2024).

Nomor Satu Dunia

Dalam sejarah produksi gula masa kejayaan industri gula Indonesia hanya terjadi pada era kolonial Belanda, tahun 1930-an.

Setelah memasuki awal masa kemerdekaan, tahun 1945, industri gula stagnan. Dan, mencapai puncaknya pada era Orde Baru. Terutama setelah krisis ekonomi tahun 1997.

Menurut data yang dirilis United States Department of Agriculture disebutkan kalau Indonesia negara importir gula terbesar di dunia.

Sedikitnya kebutuhan gula Indonesia 7 juta ton per tahun. Sedangkan produksi dalam negeri hanya 2,4 juta ton. Selisih 4,6 juta ton di impor dari Thailand, Brasil, Australia, dan India.

Mafia dan Kartel.

Praktek mafia gula sudah terendus Menko Maritim Rizal Ramli (2015-2016). Ia mengungkapkan keberadaan “tujuh samurai mafia gula” yang melakukan tindakan culas di sektor pangan dan tumbuhnya kartel gula.

Sistem kuota impor sebagai celah pinggiran tumbuhnya kartel gula memiliki pengaruh kuat dalam rantai pasok gula importir hingga memanipulasi harga hingga distribusi.

DPR menghitung kerugian dari importasi gula sangat besar menguras anggaran negara Rp3 triliun pertahun.

Dan, duit sebanyak itu menjadi “bancakan” rutin antara koruptor di pejabat pemerintahan dengan pengusaha kakap. Semua terkait dengan mafia dan kartel gula.*

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati Bandung, jurnalis  dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

       

Leave a Response