Opini

Menjaga Marwah PWI Jawa Barat di Era AI: Tantangan Berat yang Menuntut Solidaritas Lintas Generasi*

23views

Oleh Tantan Sulthon B

BANDUNG – TANTANGAN yang dihadapi dunia pers hari ini benar-benar tidak main-main. Di tengah gempuran teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), ruang redaksi dituntut bergerak secepat kilat. Tapi, di balik kecepatan itu, ada harga mahal yang dipertaruhkan: kepercayaan publik. Realitas inilah yang mendasari pandangan Tantan Sulthon B, M.Sos., calon Ketua PWI Jawa Barat periode 2026-2031.

Baginya, organisasi bukan sekadar urusan administrasi atau papan nama belaka. Lebih dari itu, ia adalah rumah bersama yang menentukan ke mana arah kemudi pers daerah akan melangkah saat badai disrupsi melanda.

Menjinakkan AI Tanpa Kehilangan Hati Nurani

Dunia media saat ini berubah sangat radikal. Cara berita diproduksi dan dikonsumsi masyarakat sudah jauh berbeda dibanding sedekade lalu. Informasi saling berkejaran dalam hitungan detik. Imbasnya, akurasi kerap kali dikorbankan demi kecepatan. Menariknya, dalam situasi penuh tekanan ini, mengingatkan kita semua pada tesis klasik Bill Kovach dan Tom Rosenstiel. Dia menegaskan bahwa esensi jurnalisme tetap sama sampai kapan pun, yaitu menyajikan informasi valid agar masyarakat tetap merdeka dan mampu mengatur dirinya sendiri.

Oleh karena itu, organisasi wartawan di Jabar punya pekerjaan rumah yang besar. Lembaga ini harus mampu menyulap diri menjadi laboratorium belajar yang dinamis. Wartawan didorong untuk adaptif terhadap perkembangan teknologi AI. Namun ingat, adopsi teknologi tidak boleh sampai menggerus jati diri wartawan sebagai perawat kebenaran. Teknologi hanyalah alat bantu, sementara hati nurani dan komitmen pada fakta tetap menjadi ruh utama yang tidak bisa digantikan oleh mesin pintar mana pun.

Ujian Kedewasaan dan Rumah yang Ramah Lintas Generasi

Sebuah bangunan yang besar tentu tidak luput dari terpaan angin kencang. Begitu pula dengan dinamika internal yang belakangan ini mewarnai perjalanan *PWI Jawa Barat*. Silang pendapat dan perbedaan pilihan di internal organisasi sebenarnya adalah hal yang sangat lumrah. Padahal, gesekan seperti ini kerap kali memicu polarisasi jika tidak dikelola dengan bijak.

Untuk itu, kedewasaan sebuah wadah profesi justru diuji dari cara mereka mengelola perbedaan tersebut.
Tembok organisasi itu didirikan untuk melindungi dan menguatkan semua anggotanya, bukan malah membangun sekat-sekat eksklusif yang memisahkan. Solusinya jelas: kembali ke meja musyawarah dengan budaya saling menghormati. Organisasi yang kokoh bukan berarti bersih dari perbedaan, melainkan yang piawai merajut perbedaan itu menjadi energi kolektif yang dahsyat.

Ke depan, pintu organisasi wartawan di Jabar harus terbuka lebar secara inklusif. Wartawan muda yang minim pengalaman harus dirangkul dan diberi ruang aman untuk bertumbuh, tanpa sedikit pun mengesampingkan jasa dan dedikasi para senior yang telah bertahun-tahun merawat fondasi profesi ini.

Merawat Cahaya Independensi Demi Kepercayaan PublikI

Pada akhirnya, marwah sebuah organisasi pers tidak ditentukan oleh berapa tua usianya atau seberapa megah gedungnya. Martabat itu lahir dari komitmen anggotanya dalam menjunjung tinggi kode etik, kejujuran, dan tanggung jawab sosial kepada masyarakat luas. Reputasi di mata publik tidak bisa dibeli dengan pencitraan; ia harus diperjuangkan lewat konsistensi produk jurnalistik yang dihasilkan setiap hari.
Membangun rumah pers yang teduh dan mandiri jelas tidak bisa mengandalkan satu atau dua orang saja. Dibutuhkan kolaborasi nyata dari banyak tangan yang memiliki frekuensi dan niat yang sama. Tugas generasi hari ini bukan cuma numpang tinggal di dalam rumah besar bernama PWI Jawa Barat, melainkan memastikan lentera independensi di dalamnya tetap menyala terang. Selama komitmen bersama ini terjaga dengan baik, maka harapan akan lahirnya jurnalisme yang sehat, bermartabat, dan berpihak pada kepentingan publik akan selalu menemukan jalannya.***

Leave a Response