
Oleh: Ridhazia
RIBUAN orang menandatangani petisi di Change.org untuk menolak penutupan Jalan Diponegoro, Bandung sejak Gubernur Jawa Barat merencanakan revitalisasi kawasan Gedung Sate-Gasibu.
Alasannya sederhana saja. Jalan Diponegoro sepanjang 130 meter merupakan jalan yang terintegrasi dengan Gedung Sate sebagai dari bangunan heritage.
Meski demikian, Dedi Mulyadi bergeming dengan rencana. Ia tetap akan memlngintegrasikan Gedung Sate-Lapangan Gasibu menjadi kawasan plaza yang lebih luas dan terbarukan dengan menimbang masukan dari petisi itu.
Rembrandt Straat
Jalan Diponogoro secara histori disebut Rembrandt Straat (Jalan Rembrandt) oleh pemerintah kolonial Belanda, merujuk pada pelukis terkenal Belanda, Rembrandt van Rijn (1606-1669)
Jalan tersebut difungsikan sekitar pertengahan tahun 1920-an sebagai akses jalan utama dari/ke gedung Gedung Sate sebagai pusat pemerintahan (Gouvernements Bedrijven) terkait pemindahan ibu kota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung.
Nama Gedung Sate tidak dikenal selama koloni Belanda di Bandung. Hanya karena di puncak menara gedung terdapat tusuk sate dengan enam ornamen berbentuk jambu air — yang secara filosofis melambangkan 6 juta gulden biaya pembangunan) — maka dipolerkan nama familiar Gedung Sate.
Jalan Diponegoro itu Cagar Budaya
Dalam ilmu Studi Warisan Budaya (Heritage Studies), jalan bisa termasuk dalam cakupan Kawasan Cagar Budaya jika jalan tersebut memiliki akar dan nilai sejarah.
Dengan kata lain Jalan Diponogoro sebagai prasarana infrastruktur yang secara histori berfokus bagian yang tak terpisahkan sebagaimana terikat dengan pada dokumentasi, pelestarian, dan konservasi bangunan serta perencanaan Gedung Sate saat itu.
Studi warsian budaya bisa membantu publik dan pemerintah memahami nilai, identitas, dan pentingnya melestarikan peninggalan masa lalu dengan menjawab pertanyaan apakah jalan tersebut termasuk dalam zonasi inti cagar budaya atau bukan.
Kalau dilihat secara kasat mata dari foto yang beredar di ruang publik tak ada alasam Jalan Diponogoro adalah warisan budaya yang terikat dengan pembangunan gedung sate sebagai kawasan yang terintegrasi yang tak sepantasnya ditutup.
Terowongan Silaturahmi
Belajar dari terowongan Silaturahmi sebuah akses jalan Masjid Istiqlal -Gereja Katedral yang sudah berdiri sejak era kolonial Belanda bisa menginspirasi “sengketa” gagasan gubernur Jawa Barat dengan publik terkait Jalan Diponogoro Bandung.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhayi psikologi dan komunikasi sosial politik. bermukim di Bandung, Jawa Barat.





