
Oleh: Ridhazia
OJEK itu unik. Selain hanya berkembang di Indonesia. Juga menjadi solusi.
Tren penggunaan ojek selain sebagai angkutan antar penumpang, kini melayani antar belanja makanan dan minuman. Bahkan jasa antar anak sekolah dan titipan barang.
Keistimewaan ojek yang lainnya mobilitas cepat, mudah diakses, efisien dan fleksible tinggi. Dengan aplikasi nyaris tanpa kesulitan dalam transaksi pembayaran.
Evolusi Ojek
Sampai wujud sekarang ojek berevolusi nyaris setengah abad dihitung sejak 1970.
Muncul pertama kali sebagai ojek sepeda sisa peninggalan era Belanda di sejumlah pedesaan di Jawa Tengah untuk angkutan pertanian.
Sepeda yang serupa ternyata digunakan di Pelabuhan Tanjung Priuk Jakarta Utara untuk angkutan buruh panggul.
Sedangkan penggunaan ojek motor dimulai bersamaan menjamurnya ojek pangkalan. Kehadiran ojek pangkalan telah memecah kebuntuan pengangguran.
Evolusi berikutnya muncul ketika ojek menggunakan aplikasi pada era tahun 2010 bersama kehadiran GOJEK yang digagas Nadiem Makarim.
Ide serupa diikuti ojek aplikasi seperti GRAB, InDRIVE, Nusantara Ojek (NUJEK) dan lain lain.
Mengubah Preferensi
Perkembangan teknologi dan mobilitas ojol telah menyebabkan perubahan dalam preferensi transportasi di negeri ini.
Berdasarkan data historis, jumlah pengemudi ojek daring (ojek online) di Indonesia diperkirakan menembus angka sekitar 7 juta pengojek pada tahun 2025.
Jika digabung ojek sepeda ontel dan ojek pangkalan –yang tidak terdeteksi jumlah anggotanya– total jumlah pengojek dikisaran 10.000 orang.
Sedangkan pengguna aplikasi ojek online tembus 88,3 juta pengguna pada akhir 2024. Mungkin di atas 100 juta penumpang jika dicatatakan dengan ojek sepeda dan ojek pangkalan.*
* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.





