
SERANG, Bandungpos Id. – Malam yang diproyeksikan sebagai pesta kemenangan mudah bagi Persib Bandung berubah menjadi mimpi buruk yang nyaris berujung fatal di Banten International Stadium, Senin (20/4/2026). Maung Bandung, sang pemuncak klasemen, dipaksa bertekuk lutut secara mental sebelum akhirnya berhasil menyelamatkan diri lewat hasil imbang 2-2 melawan Dewa United. Pertandingan ini bukan sekadar berbagi angka, melainkan cerminan nyata dari kerapuhan struktural lini belakang yang dihukum telak, serta indikasi ketergantungan berlebihan pada momentum darurat demi menyelamatkan muka di tengah perebutan gelar yang semakin ketat.
Babak pertama hingga awal babak kedua menjadi bukti kegagalan total skuad Bojan Hodak dalam membaca dinamika permainan. Dua gol yang bersarang di gawang Teja Paku Alam, masing-masing dicetak oleh Alex Martins (menit 24) dan Ricky Kambuaya (menit 61), lahir dari kesalahan individu fatal yang sulit ditoleransi di level elit. Situasi semakin memprihatinkan ketika Dewa United sempat mencetak gol ketiga melalui Alexis Messidoro, yang akhirnya dibatalkan VAR karena offside. Jika keputusan itu berbeda, kemungkinan besar Persib sudah terkubur dalam kekalahan yang memalukan jauh sebelum laga berakhir.
Ironi terbesar tercatat ketika fakta menunjukkan Persib justru tertinggal 0-2 di kandang lawan yang terpaksa bermain dengan sepuluh orang sejak menit 61 usai Alex Martins melihat kartu merah. Kenyataan bahwa tim unggulan ini masih tertinggal meski memiliki keunggulan jumlah pemain selama sisa pertandingan adalah catatan aib yang mencoreng reputasi mereka sebagai kandidat juara. Hal ini menegaskan bahwa dominasi penguasaan bola gagal diterjemahkan menjadi kontrol yang efektif dan mematikan di lapangan hijau.
Penyelamatan poin bagi Persib lebih disebabkan oleh eksploitasi keunggulan numerik yang datang terlambat, bukan karena superioritas strategi atau taktik yang brilian. Baru setelah lawan kehilangan satu personel dan mulai kehilangan stamina serta disiplin, wajah permainan berubah drastis. Gol penalti Thom Haye di menit 77 dan sundulan Andrew Jung di menit 86 lebih mencerminkan keputusasaan lawan yang mulai kelelahan daripada keindahan pola serangan Maung Bandung yang sesungguhnya.
Peluang emas yang terbuang oleh Frans Putros di menit 89 menjadi bukti nyata kurangnya ketajaman dan mentalitas penyelesai yang dibutuhkan di laga krusial. Gagalnya kesempatan satu lawan satu tersebut seharusnya menjadi momen pembalik keadaan yang mengubah satu poin menjadi tiga. Faktanya, Persib tidak menang karena permainan mereka bagus, mereka “selamat” semata karena lawan yang hancur secara struktural dan kehabisan tenaga.
Dampak dari hasil imbang ini jauh lebih pahit daripada sekadar kehilangan dua poin berharga. Tahta Persib di puncak klasemen kini berada di ujung tanduk dengan koleksi 65 poin dari 28 laga. Jarak aman mereka dengan Borneo FC di posisi kedua terpangkas drastis menjadi hanya dua angka. Dalam kompetisi seketat Liga 1, margin setipis ini adalah bahaya laten yang memberikan sinyal kuat kepada para pesaing bahwa tahta tersebut bisa digulingkan kapan saja jika standar permainan terus menurun.
Malam ini, Persib Bandung belajar dengan cara yang sangat mahal bahwa status favorit tidak menjamin kemenangan. Mereka diingatkan bahwa arrogance atau perasaan terlalu aman bisa berbuah blunder mematikan. Narasi “comeback heroik” tidak boleh menutupi fakta bahwa mereka sempat bermain sangat buruk selama 60 menit pertama. Jika evaluasi menyeluruh tidak segera dilakukan, mimpi meraih gelar juara musim ini berisiko berakhir dengan kekecewaan di pekan-pekan penentuan. Satu poin di Banten terasa seperti kekalahan yang tertunda. (Ask/Id)***





