
KAB. BANDUNG, Bandungpos Id.
Peringatan Hari Jadi ke-385 Kabupaten Bandung berlangsung dalam suasana yang sarat makna namun penuh keprihatinan. Momentum bersejarah ini digelar di tengah tantangan cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi yang telah melanda belasan kecamatan, menjadikan perayaan tahun ini memiliki nuansa yang sangat berbeda dari biasanya.
Menyikapi situasi tersebut, Pemerintah Daerah mengambil langkah bijak dengan melakukan penyesuaian mendasar. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang meriah dengan berbagai atraksi, perayaan kali ini dikemas dengan nuansa yang jauh lebih sederhana, tenang, dan penuh empati sebagai wujud nyata solidaritas terhadap warga terdampak.
Upacara bendera sebagai agenda utama dilaksanakan di Lapangan Upakarti, Senin (20/4/2026). Kegiatan ini berjalan dengan tertib dan khidmat, diikuti oleh seluruh jajaran pemerintahan, tokoh masyarakat, serta 270 Kepala Desa dan Lurah se-Kabupaten Bandung yang hadir penuh komitmen dan semangat kebersamaan.
Di antara ratusan pemimpin desa yang hadir, sorotan utama tertuju pada Kepala Desa Sukamenak, Taufik, S.E. Beliau menegaskan bahwa momentum hari jadi harus dijadikan titik balik penguatan sinergi antarwilayah. “Di saat musibah melanda, semangat gotong royong bukan lagi sekadar slogan, melainkan kebutuhan mendesak. Kami siap mengerahkan seluruh sumber daya untuk membantu saudara kami yang tertimpa musibah,” ujar Taufik dengan tegas.
Lebih lanjut, Taufik menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bupati Bandung atas keputusan bijak menyederhanakan acara dan memprioritaskan kemanusiaan. Menurutnya, langkah tersebut mencerminkan kepemimpinan yang sangat dekat dan peduli dengan nasib rakyat. “Kami sangat mengapresiasi langkah Bupati yang cepat tanggap dan membumi. Ini menjadi motivasi besar bagi kami di tingkat desa untuk bekerja lebih keras lagi,” tambahnya, pernyataan yang disambut antusias oleh rekan sejawat, Kepala Desa Sayati, Nandar Kusnandar, S.Hut.
Sebagai bentuk kepedulian yang mendalam, seluruh agenda hiburan dan atraksi budaya resmi dibatalkan. Keputusan strategis ini diambil agar peringatan hari jadi tidak lepas dari rasa kemanusiaan, serta memastikan fokus dan anggaran dapat dialihkan sepenuhnya untuk penanganan bencana dan bantuan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.
Sebagai pengganti kegiatan hiburan, diadakan pula Istighosah dan doa bersama di Masjid Al-Fathu. Kegiatan spiritual ini menjadi wujud ikhtiar dan harapan bersama, permohonan agar Kabupaten Bandung segera diberikan keselamatan, ketenangan, dan keberkahan di masa mendatang demi terwujudnya daerah yang lebih tangguh dan sejahtera. ( Tanya/Id )***





