Kolom Sosial Politik

Makan SERANGGA

579views

 

Oleh RIDHAZIA

Serangga seperti belalang hingga ulat sagu atau jangkrik menjadi menu alternatif program makan bergizi gratis di Indonesia.

Minoritas

Meski makan serangga itu masih dianggap menjijikkan. Dan, mungkin hanya dinikmati minoritas penduduk dunia. Tapi sepanjang sejarah, banyak budaya di muka Bumi masih menyukainya.

Praktik memakan serangga yang diistilahkan sebagai entomofagi atau insektivori bukan kelaziman umum di Indonesia. Apalagi di kalangan keluarga muslim.

Di Bali

Capung yang sudah dikupas sayapnya direbus dalam santan dengan jahe dan bawang putih merupakan makanan lezat di Bali.

Tradisi makan serangga itu merupakan tradisi sepuluh ribu tahun lalu untuk bertahan hidup. Itu salah satu catatan Gene DeFoliart, seorang profesor emeritus entomologi di University of Wisconsin-Madison.

Bahkan bangsawan Romawi dan Yunani kuno juga sudah terbiasa menyantap serangga seperti ditulis dalam Historia Naturalis. Bahkan memakan larva kumbang yang yang telah dibesarkan dimasak dicampur dengan tepung dan anggur.

Kemewahan

Aristoteles, filsuf dan ilmuwan Yunani abad keempat memberi kesaksian bagaimana makan serangga seperti jangkrik sebagai kemewahan.

Pada pertengahan abad ke-19, Mayor Howard Egan, seorang pengawas Pony Express di Nevada juga mengamati perburuan suku jangkrik Mormon yang tidak bersayap untuk dijadikan tepung roti sebagai sumber protein musiman yang penting.

Ghana, selama musim semi, rayap bersayap dikumpulkan dan digoreng, dipanggang, atau dibuat menjadi roti. Di Afrika Selatan, serangga ini dimakan dengan bubur jagung.

Di Cina, peternak lebah dianggap jantan, karena mereka secara teratur memakan larva dari sarang lebah mereka.

Para pecinta kuliner di Jepang menyukai larva lalat air yang ditumis dengan gula dan kecap. *

* Ridhazia, dosen senior Fidkom UIN Sunan Gunung Djati, jurnalis dan kolumnis, pemerhati psikologi dan komunikasi sosial politik, bermukim di Bandung, Jawa Barat.

Leave a Response