OpiniSekolasiana

Refleksi Perjalanan Guru Penggerak Menuju Pemimpin Pembelajaran

Refleksi Perjalanan Guru Penggerak Menuju Pemimpin Pembelajaran

453views

Oleh Entang Rusmana,.S.Pd ( Guru Penggerak A-10 Disdik Kota Bandung)

Melalui lokakarya para guru penggerak tidak hanya belajar, tetapi juga merefleksikan perjalanan yang telah dilalui, mengidentifikasi pencapaian, tantangan, serta rencana ke depan untuk terus berkembang.

LOKAKARYA 6 (enam)– dalam program Pendidikan Guru Penggerak (PGP) menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan peserta menuju pemahaman yang lebih mendalam tentang peran mereka sebagai pemimpin pembelajaran. Melalui lokakarya ini, para guru penggerak tidak hanya belajar, tetapi juga merefleksikan perjalanan yang telah dilalui, mengidentifikasi pencapaian, tantangan, serta rencana ke depan untuk terus berkembang.

Tujuan Lokakarya

Lokakarya 6 bertujuan untuk mengajak para peserta merefleksikan pengalaman yang telah mereka dapatkan selama program PGP. Guru penggerak diharapkan mampu menghubungkan teori-teori yang dipelajari, seperti filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, manajemen perubahan, hingga coaching dan mentoring, dengan praktik nyata di sekolah.

Pada tahap ini, refleksi menjadi bagian penting dari proses belajar. Peserta diharapkan mampu melihat peran mereka tidak hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai pemimpin pembelajaran yang dapat menginspirasi dan menggerakkan komunitas belajar di sekolah.

Kegiatan dalam Lokakarya

Kegiatan lokakarya dibagi menjadi beberapa sesi yang dirancang untuk membangun pemahaman holistik:

Refleksi Diri dan Kelompok: Peserta diajak untuk melakukan refleksi personal dan berbagi pengalaman dengan rekan-rekan lainnya. Diskusi kelompok ini membantu peserta untuk melihat keberagaman tantangan yang dihadapi di lapangan, serta solusi kreatif yang telah diterapkan.

Penguatan Filosofi Pendidikan: Para peserta kembali diajak menggali filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara, terutama dalam mengimplementasikan prinsip “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” dalam konteks kepemimpinan pembelajaran di sekolah.

Simulasi dan Studi Kasus: Lokakarya ini juga menampilkan simulasi dan studi kasus untuk memberikan gambaran nyata tentang bagaimana para guru penggerak dapat mengelola perubahan di sekolah. Peserta ditantang untuk merancang solusi atas masalah yang dihadapi di sekolah, baik dalam hal pengembangan kurikulum, manajemen kelas, maupun peningkatan kapasitas guru lain.

Perencanaan Tindak Lanjut: Setiap peserta didorong untuk merumuskan rencana tindak lanjut (RTL) yang jelas, yang mencakup langkah-langkah konkret yang akan diambil setelah kembali ke sekolah. RTL ini mencerminkan komitmen mereka dalam menerapkan pembelajaran yang telah didapatkan dalam lokakarya.

Refleksi dan Tindak Lanjut

Lokakarya 6 juga memberikan kesempatan bagi para guru penggerak untuk memikirkan dampak dari peran mereka selama ini. Bagaimana mereka telah mempengaruhi siswa, sesama guru, serta budaya sekolah? Apa tantangan yang mereka hadapi dan bagaimana mereka mengatasinya? Melalui refleksi ini, mereka diharapkan dapat semakin yakin akan peran penting mereka sebagai agen perubahan.

Di akhir lokakarya, peserta dengan semangat baru dan kesadaran lebih  tentang peran mereka sebagai pemimpin pembelajaran. Mereka siap untuk menerapkan hasil belajar dalam konteks nyata, menciptakan perubahan positif di sekolah mereka, dan terus mengembangkan potensi siswa dan guru lainnya.

Kesimpulan

Lokakarya 6 menjadi momen penting dalam perjalanan Guru Penggerak. Ini bukan hanya sekedar pembelajaran teoritis, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan, belajar dari pengalaman, dan merencanakan masa depan. Melalui lokakarya ini, para guru penggerak semakin dipersiapkan untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang berdampak positif pada siswa dan sekolah.** ( Penulis Guru SMPN-46 Bandung, bertempat tinggal di Bandung)

Leave a Response