
Oleh Ma’ruf Sarifudin
Pernah nggak sih melihat teman atau bahkan kita sendiri yang bisa menyelesaikan draf makalah belasan halaman hanya dalam hitungan jam? Fenomena ini makin sering terjadi di kampus hari ini. Di atas kertas, kelihatannya kita sedang berada di puncak efisiensi, di mana beban tugas yang berat bisa diselesaikan dengan kedipan mata. Tapi jika kita mau melihat lebih dalam, di balik kecepatan tersebut ada sesuatu yang jauh lebih esensial dari sekadar efisiensi yang patut kita pertanyakan bersama.
JUJUR, saya sendiri pernah berada di posisi ini. Saat tenggat waktu tugas menumpuk, menggunakan AI terasa jauh lebih mudah dan menggoda dibanding harus pusing memeras otak dari nol. Saya yakin banyak mahasiswa lain juga pernah merasakan dilema yang sama. Bahkan kadang, saya sendiri masih ragu apakah cara ini benar atau tidak. Namun setelah menekan tombol submit, sering kali muncul pertanyaan yang mengganjal di hati: Apakah saya benar-benar memahami apa yang baru saja saya kumpulkan? Jangan-jangan, di balik deretan kalimat yang susunannya terlalu sempurna itu, proses berpikir kita sedang “di-outsource” ke Artificial Intelligence (AI). Kita bangga tugas kelar, tapi di saat yang sama muncul kecemasan: ini kita yang makin pintar, atau cuma mesinnya yang makin canggih dan kita yang justru makin tumpul?
Untuk membedah dilema ini, kita harus paham dulu teknologi apa yang sebenarnya sedang kita pakai. Sebagian besar dari kita menggunakan Generative AI yang digerakkan oleh teknologi Large Language Models (LLM). Secara sederhana, AI ini bisa diibaratkan seperti fitur autocomplete (prediksi kata) di keyboard HP kita, tetapi dalam versi yang jauh lebih raksasa dan kompleks. Ia bukan hanya menebak satu kata berikutnya, tetapi bisa menyusun satu paragraf utuh yang terdengar sangat masuk akal berdasarkan probabilitas dari miliaran teks yang pernah dipelajarinya.
Meskipun AI pada dasarnya bekerja dengan memprediksi pola kata, dalam praktiknya AI modern mampu mengenali konteks dengan sangat baik. Ia bahkan bisa melakukan penalaran terbatas dan menghasilkan jawaban yang terlihat persis seperti hasil pemikiran manusia. Inilah yang membuatnya terasa sangat “pintar”, meskipun proses di baliknya tetap berbasis pola statistik, bukan kesadaran atau nurani yang otentik.
Dengan kemampuan sehebat itu, tidak heran jika AI terasa sangat membantu dalam proses belajar. Kita jelas tidak bisa menutup mata dari sisi terangnya. AI membuka peluang yang luar biasa besar bagi dunia pendidikan. Mahasiswa dapat menggunakannya sebagai “mentor awal” untuk menyederhanakan konsep yang rumit, mencari referensi awal, merangkum jurnal yang panjang, atau memancing ide saat otak sedang stuck (brainstorming). Dengan pemakaian yang tepat dan berkesadaran, AI justru dapat mempercepat dan memperkuat jangkauan berpikir kita.
Namun, fenomena ini bagaikan pedang bermata dua. Tanpa kontrol diri yang kuat, kemudahan luar biasa ini bisa berbalik menjadi bumerang. Ketika kita secara otomatis mengetik prompt setiap kali dihadapkan pada pertanyaan yang sulit, sebagian mahasiswa berisiko terjebak menjadi pengguna pasif yang hanya menyalin teks tanpa benar-benar memahami isinya. Kita jadi terbiasa memotong proses “berdarah-darah” dalam belajar. Padahal, rasa pusing dan kebingungan saat mencari jawaban itulah yang sebenarnya membentuk ketangguhan nalar kita.
Inilah ironi sistem akademik kita sekarang. Kampus seharusnya jadi tempat kita babak belur menguji argumen dan merumuskan identitas intelektual. Namun dengan kehadiran AI yang dipakai secara instan tanpa disaring, kampus berisiko bergeser dari ruang pembentukan nalar menjadi sekadar tempat produksi tugas. Coba bayangkan siklus ini: mahasiswa menyetor teks buatan mesin, lalu dosen menilainya—yang kadang juga menggunakan bantuan mesin untuk mendeteksi plagiasi. Jika interaksi utama dalam proses akademik berubah menjadi “mesin menghasilkan jawaban dan mesin lain mengevaluasinya”, maka peran manusia dalam proses tersebut patut dipertanyakan. Tanpa proses berpikir yang utuh, mahasiswa tidak hanya kehilangan pemahaman, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk membangun argumen baru secara mandiri.
Kekhawatiran ini jauh melebihi sekadar masalah kecurangan akademik. Ini adalah soal pengikisan intuisi. AI menyuguhkan pikiran yang sudah matang, sementara kita dibiarkan kehilangan kemampuan untuk memproses bahan mentahnya. Akar masalahnya jelas bukan pada penemuan AI itu sendiri—teknologi ini adalah capaian luar biasa dalam bidang teknologi. Masalahnya ada pada mentalitas “menggugurkan kewajiban” yang terlanjur membudaya, di mana kita sering menganggap hasil akhir lebih penting dari proses.
Di sinilah literasi teknologi mengambil peran vital. Di tengah disrupsi yang serba cepat ini, kita ditantang untuk kembali Membaca Hidup. Jangan sampai kita hanya menjadi penumpang pasif yang rute hidupnya disetir oleh saran algoritma. Kita harus memiliki kedaulatan untuk Menulis Ulang Diri, memastikan bahwa setiap analisis, karya, dan keputusan yang kita buat tetap memiliki nyawa dan sentuhan manusiawi yang tidak bisa dikalkulasi oleh mesin mana pun. Artinya, kita tetap aktif berpikir, mempertanyakan, dan memaknai setiap informasi yang kita terima.
Pada akhirnya, AI bukanlah musuh yang harus dijauhi, melainkan instrumen yang harus kita kuasai. Tantangan terbesar mahasiswa hari ini adalah bagaimana kita tetap memegang kendali atas cara berpikir kita, bukan menyerahkannya sepenuhnya pada kemudahan teknologi. Tantangannya adalah berani tetap berproses secara manual di tengah godaan untuk terlihat pintar secara instan. Karena pada akhirnya, selembar ijazah saja tidak akan cukup bermakna jika kemampuan berpikir kritis yang seharusnya menyertainya tidak benar-benar terbentuk.**Penulis : Ma’ruf Sarifudin Mahasiswa S1 Teknik Informatika Telkom University
Edditor: Rianto Muradi




