Opini

Menakar Modal Sosial di Balik Riuh Kritik Literasi

5views

 

Oleh Muhammad Subhan

Kesalahan terbesar dalam menilai gerakan literasi adalah menyamakannya dengan proyek pembangunan fisik. Jalan tol selesai dalam hitungan tahun. Gedung selesai dalam hitungan bulan. Namun, membangun kebiasaan membaca membutuhkan waktu satu generasi, bahkan dua generasi. Tidak ada bangsa yang melahirkan masyarakat pembaca hanya melalui seminar, apalagi hanya melalui kritik. Literasi adalah pergeseran kebudayaan. Dan perubahan kebudayaan selalu berlangsung perlahan.

SETIAP gerakan sosial selalu memiliki dua kutub. Yang pertama adalah mereka yang bekerja diam-diam, mengumpulkan batu demi batu hingga menjadi jembatan. Yang kedua adalah mereka yang berdiri di tepi sungai, mengukur panjang jembatan yang belum selesai sambil mengatakan bahwa jembatan itu gagal dibangun.

Diskusi mengenai gerakan literasi nasional hari ini memperlihatkan dua kutub tersebut.

Sahabat saya, Gol A Gong, yang saat ini mengemban amanah sebagai Duta Baca Indonesia di masa transisi hingga Desember 2026, memilih tetap berjalan dari kampung ke kampung, sekolah ke sekolah, perpustakaan ke perpustakaan, kawasan industri, hingga taman bacaan masyarakat. Ia tidak memulai langkah dari teori tentang rendahnya literasi Indonesia, tapi dari perjumpaan langsung dengan manusia.

Sebaliknya, kritik terhadap gerakan literasi sering kali berangkat dari kegelisahan yang sah: mengapa indeks literasi belum melonjak, mengapa budaya membaca belum mengakar, atau mengapa kegiatan literasi tampak seremonial.

Pertanyaan paling sederhana, apakah lambatnya perubahan berarti sebuah gerakan layak dianggap gagal?

Jawabannya justru tidak.

Kesalahan terbesar dalam menilai gerakan literasi adalah menyamakannya dengan proyek pembangunan fisik. Jalan tol selesai dalam hitungan tahun. Gedung selesai dalam hitungan bulan. Namun, membangun kebiasaan membaca membutuhkan waktu satu generasi, bahkan dua generasi.

Tidak ada bangsa yang melahirkan masyarakat pembaca hanya melalui seminar, apalagi hanya melalui kritik.

Literasi adalah pergeseran kebudayaan. Dan perubahan kebudayaan selalu berlangsung perlahan.

Oleh sebab itu, ukuran keberhasilan gerakan literasi tidak boleh hanya bertumpu pada statistik nasional yang bergerak lambat. Hal yang jauh lebih krusial adalah melihat perubahan-perubahan kecil yang berlangsung setiap hari. Sebagai contoh, seorang anak yang mulai mencintai buku, seorang buruh yang mulai menulis kisah hidupnya, seorang ibu rumah tangga yang berani menerbitkan buku, sebuah desa atau nagari yang memiliki taman bacaan, atau sebuah perusahaan yang menyediakan ruang membaca bagi para pekerjanya.

Perubahan seperti itu memang tidak langsung mengubah angka-angka statistik nasional seketika. Namun, justru dari titik-titik kecil itulah sejarah besar selalu dimulai.

Gol A Gong dan pegiat lainnya di Indonesia yang berdiri di garda terdepan membangun gerakan literasi di akar rumput menunjukkan sesuatu yang sering luput dari perhatian: literasi tidak lagi terisolasi di perpustakaan atau kampus. Literasi telah menyusup ke kawasan industri, sekolah vokasi, komunitas desa, hingga kelompok ibu rumah tangga. Fenomena ini bukanlah bentuk romantisme, melainkan bukti konkret bahwa literasi sedang menemukan habitat baru yang lebih dinamis.

Di sinilah kritik yang hanya berpusat pada hasil akhir kehilangan konteksnya.

Gerakan sosial tidak pernah lahir dari kesempurnaan, sebaliknya tumbuh dan bertahan melalui ribuan eksperimen kecil.

Kalau hari ini terdapat lebih dari seribu titik kegiatan literasi yang saling terhubung, sejatinya yang sedang dibangun bukan semata acara membaca atau pelatihan menulis. Yang sedang dirajut adalah jejaring sosial yang memungkinkan budaya membaca diwariskan secara horizontal antarmasyarakat.

Inilah yang disebut modal sosial.

Bangsa yang kuat tidak hanya memiliki gedung perpustakaan megah dan mewah. Lebih dari itu, mereka memiliki warga yang secara sukarela menjadi relawan membaca, membuka taman bacaan, mendonasikan buku, mengajar menulis, dan menciptakan komunitas belajar.

Modal sosial semacam itu tidak pernah lahir melalui kebijakan top-down pemerintah semata. Sebaliknya, ia tumbuh karena ada orang-orang yang bersedia bekerja dengan tulus, bahkan saat kamera tidak menyorot mereka.

Di titik inilah kritik yang terlalu sinis justru berisiko mematikan energi kerelawanan.

Kritik tentu diperlukan. Bahkan, gerakan literasi membutuhkan kritik agar tidak terjebak menjadi kegiatan yang tidak berdampak. Namun, kritik harus bertujuan memperbaiki arah, bukan memperburuk keadaan serta menurunkan semangat relawan. Kritik harus menawarkan jalan keluar, bukan sekadar membuktikan bahwa semua usaha di tingkat akar rumput sia-sia.

Bila seluruh gerakan akar rumput dianggap gagal hanya karena Indonesia belum mencapai tingkat literasi ideal, maka logika cacat yang sama juga harus digunakan terhadap sektor pendidikan, kesehatan, bahkan demokrasi. Apakah karena korupsi masih ada, lalu pendidikan antikorupsi harus dihentikan? Tentu tidak.

Literasi bekerja dengan logika yang sama. Literasi adalah investasi jangka panjang peradaban. Hasilnya mungkin baru dipanen dua puluh tahun lagi, atau bahkan lebih lama dari itu.

Ada satu hal yang menarik dari pengalaman Gol A Gong, dan sering kami diskusikan dalam sejumlah pertemuan, termasuk via telepon. Gol A Gong menyebutkan bahwa rasio buku yang dahulu ditunggu oleh puluhan orang, kini kondisinya jauh membaik. Terlepas dari bagaimana angka itu diperdebatkan oleh para pengamat, pesan utamanya jelas: persoalan Indonesia bukan hanya kekurangan pembaca, tapi juga kekurangan penulis.

Pandangan ini sangat krusial.

Selama ini gerakan literasi terlalu sering direduksi sebatas aktivitas membaca. Padahal, masyarakat yang hanya membaca tanpa menulis akan selamanya menjadi konsumen pengetahuan. Sebaliknya, masyarakat yang membaca sekaligus menulis telah mulai memproduksi pengetahuan secara mandiri.

Oleh karena itu, pelatihan menulis di sekolah, desa, komunitas, bahkan kawasan industri bukanlah aktivitas pinggiran. Itulah inti dari demokratisasi pengetahuan.

Ketika seorang buruh menulis memoar, seorang petani menulis pengalaman bertani, seorang guru menulis praktik baiknya, dan seorang pelajar menulis cerita daerahnya, sesungguhnya bangsa ini sedang memperluas arsip kebudayaannya.

Tidak semua tulisan itu akan menjelma karya sastra besar. Namun, semuanya dipastikan memperkaya ingatan kolektif bangsa. Di sinilah literasi menemukan substansi politiknya yang paling dalam, yaitu memberikan hak setara bagi setiap orang untuk bersuara.

Gerakan literasi akar rumput tidak boleh dipandang sebagai kasta rendah, sebagaimana istilah yang sempat disinggung Gol A Gong dalam catatan di laman Facebook-nya. Justru di akar rumputlah seluruh pohon kebudayaan memperoleh asupan makanannya.

Pohon yang akarnya sehat tidak akan takut diterpa angin. Begitu pula sebuah bangsa. Selama masih ada guru yang mengajak murid-muridnya ke perpustakaan, relawan yang membawa buku ke pelosok-pelosok desa, pegiat yang menghidupkan taman bacaan, penulis yang berkeliling tanpa lelah, dan komunitas yang terus mengajak orang membaca serta menulis, harapan itu akan selalu terjaga.

Literasi memang tidak tumbuh dalam satu malam. Namun, literasi juga tidak akan pernah tumbuh dari rahim sinisme.

Literasi tumbuh dari tangan orang-orang yang terus bekerja dengan ketulusan penuh, bahkan ketika hasilnya belum sempat terhitung oleh angka-angka statistik nasional, ataupun dikonversi ke dalam angka-angka finansial lainnya. Bagaimanapun, nilai dari sebuah peradaban yang merdeka tidak akan pernah bisa diukur dengan kalkulasi untung-rugi di atas kertas. **Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, founder Sekolah Menulis elipsis

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response