Opini

“Rumah Sudah Tokok Jangan Sampai Berbunyi”

54views

Oleh Muhammad Subhan

Dia kecewa. Kemudian, ia mengeluh, lalu keluhannya ditulis oleh temannya—karena ia tak berani bersuara—tentang betapa dunia literasi ternyata (ia menganggap) “palsu”. Ia merasa bukunya sangat layak diapresiasi, sebuah mahakarya hebat yang patut dibaca, dibeli, dan siapa pun harus menyambutnya gegap gempita, jika perlu dengan menyalakan kembang api.

ADA satu hal yang aneh tapi nyata: seseorang menerbitkan buku melalui penerbit komersial, ingin bukunya dikenal dan terjual, lalu menghubungi sebuah taman bacaan untuk mengadakan diskusi dan peluncuran.

Namun, saat diminta mencari sumber daya dan menyediakan honor untuk si pembahas bukunya, dia kecewa. Kemudian, ia mengeluh, lalu keluhannya ditulis oleh temannya—karena ia tak berani bersuara—tentang betapa dunia literasi ternyata (ia menganggap) “palsu”. Ia merasa bukunya sangat layak diapresiasi, sebuah mahakarya hebat yang patut dibaca, dibeli, dan siapa pun harus menyambutnya gegap gempita, jika perlu dengan menyalakan kembang api.

Tapi sebetulnya, siapa yang salah membaca kenyataan?

Sebelum merasa kecewa karena permintaan honor untuk narasumber, sebaiknya dilihat dulu bagaimana kondisi komunitas literasi itu sendiri?

Kebanyakan bacaan taman berdiri dan bertahan dengan sumber daya yang sangat terbatas. Tidak ada dana tetap, tidak ada sponsor rutin, bahkan lawan pun kerap harus merogoh kocek sendiri.

Rak buku mereka dibangun dari peti bekas, buku yang dikumpulkan dari hibah atau sumbangan, listrik terkadang pinjam, ruang baca pun tak jarang menyewa secara gotong royong.

Komunitas literasi bukan lembaga kaya raya yang mampu menampung acara-acara besar, apalagi mempromosikan buku pribadi.

Maka, ketika sebuah komunitas literasi mengatakan, “Silakan jika ingin mengadakan peluncuran buku di sini, tapi tolong bantu carikan narasumber dan siapkan kehormatan mereka,” itu bukan sebuah bentuk arogansi, apalagi pelit. Itu bentuk profesionalisme: keterusterangan.

Kalimat itu baru lahir dari kesadaran atas keterbatasan. Komunitas literasi tidak ingin mengambil keuntungan. Mereka mengatakan sejujurnya, bahwa mereka tidak mampu, tapi tetap ingin menjadi ruang terbuka bagi siapa saja yang peduli pada buku.

Lucu jika kemudian permintaan itu ditanggapi dengan sindiran, seolah-olah komunitas literasi itu “tak tahu diri”. Padahal, yang ingin mempromosikan bukunya adalah penulis itu sendiri. Jika itu bagian dari strategi promosi, maka sudah sewajarnya ia menyiapkan segala kebutuhan acara, termasuk narasumber, moderator, dan bentuk apresiasi yang layak bagi para pendukung acara.

Di ruang mana pun, dalam kegiatan yang bertujuan komersial, hal-hal seperti itu tidak wajar, tapi seharusnya sudah diperhitungkan sejak awal. Berjelas-jelas di depan. Agar rumah sudah, tokok jangan sampai berbunyi.

Mengharapkan peluncuran buku gratis, pembicara gratis, moderator gratis, tempat gratis, tapi tetap ingin buku terjual dan dikenal luas, ini adalah bentuk arogansi dan ekspektasi yang ganjil. Apalagi ketika penulisnya merasa dirinya sebagai pihak yang paling layak diperhatikan, tanpa memahami kenyataan di lapangan.

Komunitas literasi bukan panggung pertunjukan yang bisa diatur seenaknya. Komunitas literasi adalah ruang sosial yang bertahan di antara keterbatasan, tempat anak-anak mulai membaca, dan tempat berbagai kegiatan inklusi sosial lainnya.

Jika peluncuran buku dilakukan di sana, seharusnya penulis datang bukan hanya membawa produk bukunya, tapi juga membawa empati. Beda cerita jika buku yang diluncurkan adalah buku anak binaan komunitas literasi itu, pasti mereka telah menjelaskan caranya agar buku terbit dan dapat diluncurkan. Tak kayu jejang dikeping, tak emas bungkal diasah.

Soal taman bacaan yang hanya aktif saat ada kegiatan, tentu ada benarnya. Tapi itu bukan karena pencitraan semata. Banyak bacaan taman yang memang dikelola oleh orang-orang yang tetap harus bekerja setiap hari untuk mengepulkan asap dapur mereka, bukan mencari kehidupan di taman bacaan. Mereka ada yang berdagang, bertani, atau menjadi guru kehormatan. Mereka tidak punya kemewahan waktu.

Maka, ketika ada permintaan kegiatan, mereka hidup kembali di tempat itu. Bukan untuk pamer, tapi untuk memberi ruang; untuk tetap bernapas di tengah kesemitan.

Pernyataan bahwa para pegiat literasi “hanya aktif jika ada dana” adalah tuduhan yang gegabah. Banyak di antara mereka yang bekerja diam-diam, tanpa dana, tanpa bantuan hibah pemerintah—bahkan ada komunitas literasi yang memilih menolak hibah pemerintah—, bahkan tak pernah muncul di berita atau medsos. Mereka tidak meminta bayaran untuk kerja-kerja sosial yang mereka lakukan. Mereka tidak menuntut royalti atau undangan peluncuran. Mereka hanya ingin anak-anak di kampungnya bisa membaca dan bermimpi.

Dan soal permintaan PDF gratis atau buku gratis untuk taman bacaan, jika penulis merasa tidak nyaman, ia boleh menolak. Tapi tak perlu membingkai permintaan itu seolah-olah sebagai upaya menjatuhkan penulis. Banyak bacaan taman hanya ingin satu-dua buku sebagai bahan bacaan bagi pengunjung yang tidak mampu membeli. Jika tidak bisa memberi, tidak apa-apa. Tapi juga tidak perlu menuding mereka sebagai pihak yang tak tahu diri.

Kekecewaan terhadap satu pengalaman, bahkan terhadap satu teman, jangan dijadikan alasan untuk menggugat seluruh semangat literasi. Dunia literasi memang tidak seindah narasi motivasional. Tapi bukan berarti semua pegiatnya patut ditinjau. Banyak yang tetap setia, meski tak dapat ditonjolkan atau disorot. Mereka yang tetap bekerja di senyap, tak sedikit jumlahnya. Mereka yang terus berkarya di sela pekerjaan berat, juga banyak. Mereka tidak menagih, tapi selalu terbuka untuk berbagi, dan selalu dapat diajak berdiskusi.

Seharusnya peluncuran buku di kantong-kantong literasi bisa menjadi momentum kolaborasi. Penulis datang bersama penerbit membawa bukunya. Taman bacaan membuka ruangnya. Dan bersama-sama menghidupkan diskusi. Tapi tentu saja dengan saling memahami batas dan kemampuan. Bukan dengan menuntut secara sepihak, bukan dengan merasa lebih penting dari yang lain. Tidak ada yang rugi jika semua jelas sejak awal. Dan tak ada yang lebih mulia dari kerja sama yang tulus dan saling mendukung.

Literasi bukan hanya soal buku yang ditulis dan dibeli. Tapi lebih luas lagi; hubungan yang dibangun, ruang yang dipelihara, dan semangat yang dijaga bersama. Jika ingin bukunya dihargai, penulis pun perlu belajar menghargai ruang dan orang yang turut memfasilitasinya.

Dan, literasi itu tidak selalu gratis. Buktinya, buku penerbitmu saja bersifat komersial. Mencari keuntungan dari bukumu bukan?

Pun, kamu menerbitkan bukumu juga tidak selalu gratis, kecuali penerbitmu penerbit besar yang menggratiskan semua proses penerbitannya. Itu pun tidak benar-benar gratis sepenuhnya, ada sesuatu yang harus kamu bayar kembali kepada penerbitmu, sehingga mereka tidak rugi gara-gara menerbitkan bukumu.

Namun demikian, segala sesuatu yang diinginkan secara gratis, terutama saat peluncuran dan diskusi buku Anda di komunitas literasi, jika berjelas-jelas sejak awal, akan tetap gratis, sepanjang saling menguntungkan kedua belah pihak. Kalau mau untung sendiri, itu pertanda orang yang belum melek huruf. **Muhammad Subhan, penulis, pegiat literasi, pendiri Sekolah Menulis elipsis

Editor : Rianto Muradi

Leave a Response